[Review Buku]: Ibuk

07.00 Muthi Haura 1 Comments


Salah satu harta paling berharga didunia ini adalah kedua orang tua. Lewat doa merekalah yang akan menuntun untuk menggapai semua impianmu. Lewat keringat dan air mata merekalah, kamu hidup. Lewat senyum lembut dan belain tangan merekalah kamu mampu bertahan sampai saat ini.

Bersyukurlah jika kamu masih memiliki kedua orang tua lengkap, hal yang tidak akan pernah bisa aku rasakan lagi, karna kedua orang tuaku sudah meninggal. Mereka memang sudah ‘pergi’, tapi semua yang mereka ajarkan pada aku dan adik-adikku tak kan pernah lenyap. Semua kasih sayang dan kerja keras merekalah kami bisa sampai seperti sekarang ini.

Alhamdulillah sekarang aku udah S.I.Kom dengan IPK 3,62. Raihan, adik yang setahun dibawahku sedang kuliah di Madinah dengan beasiswa. Intan adik dibawah Raihan juga sedang menyelesaikan strata satunya di UIN Suska. Naufal dan Naila, sekarang pesantren. Naufal SMA, Naila SMP. Kedua-duanya masuk kelas penghapal Al-Qur’an. Sedangkan Dani juga sekolah di salah satu sekolah swasta yang menghapal Qur’an. Alhamdulillah. 


Doakan aku dan adik-adikku jadi orang sukses ya. Setidaknya, karna kami belum bisa membahagiakan kedua orang tua dan nenek kami semasa mereka hidup, semoga kami bisa membahagiakan mereka lewat prestasi kami dan doa kami. Al-Fatihah.

Nah, ngomongin kedua orang tua, aku beberapa malam yang lalu, aku baru saja menyelesaikan bacaan novel dengan judul ‘Ibuk’. Novel ini karya penulis best seller 9 summers 10 autumns karya Iwan Setyawan. Di novel ini diceritakan dengan sangat runut bagaimana perjalanan seorang perempuan muda yang kemudian berubah status menjadi ‘ibuk’ dan harus membesarkan kelima anak-anaknya.

novel ibuk
source: google

Apapun si ‘Ibuk’ lakukan agar semua anak-anaknya bisa sekolah. Agar anak-anaknya tidak hidup seperti dirinya. Ia percaya bahwa ‘sekolah’ adalah salah satu jembatan menuju masa depan yang lebih baik. Tidak mudah bagi seorang Ibu Rumah Tangga dengan suami seorang supir angkot untuk menyekolahkan kelima anak.

Belum lagi himpitan ekonomi dan semakin mahalnya biaya sekolah. Tapi itu semua tak menyurutkan niat ‘Ibuk’ agar anak-anaknya terus mengenyam pendidikan. Ibuk sosok yang tegar, aku jadi keingat almarhumah umi. Novel ini ngalir dan bikin nggak bosan bacanya. Alur yang digunakanpun alur maju.

Beberapa kali juga aku nangis tersedu-sedu saat membaca novel ini. Telur yang dibagi-bagi, aku juga pernah ngerasain. Trus hidup serba kekurangan, aku juga pernah ngerasain. Yang paling bikin nangis, pas bapak di novel ini meninggal. Jadi ingat juga sama almarhum aba yang baru meninggal 6 Juni 2018 lalu ;(

Novel ini benar-benar menguras emosi. Aku bertekad menjadi perempuan sekuat ibuk. Setegar ibuk. Semandiri ibuk. Ada beberapa kata-kata juga di novel ini yang aku suka, yakni:
 

iwan setyawan
source: google

Apapun si ‘Ibuk’ lakukan agar semua anak-anaknya bisa sekolah. Agar anak-anaknya tidak hidup seperti dirinya. Ia percaya bahwa ‘sekolah’ adalah salah satu jembatan menuju masa depan yang lebih baik. Tidak mudah bagi seorang Ibu Rumah Tangga dengan suami seorang supir angkot untuk menyekolahkan kelima anak.

Belum lagi himpitan ekonomi dan semakin mahalnya biaya sekolah. Tapi itu semua tak menyurutkan niat ‘Ibuk’ agar anak-anaknya terus mengenyam pendidikan. Ibuk sosok yang tegar, aku jadi keingat almarhumah umi. Novel ini ngalir dan bikin nggak bosan bacanya. Alur yang digunakanpun alur maju.

Beberapa kali juga aku nangis tersedu-sedu saat membaca novel ini. Telur yang dibagi-bagi, aku juga pernah ngerasain. Trus hidup serba kekurangan, aku juga pernah ngerasain. Yang paling bikin nangis, pas bapak di novel ini meninggal. Jadi ingat juga sama almarhum aba yang baru meninggal 6 Juni 2018 lalu ;(

Novel ini benar-benar menguras emosi. Aku bertekad menjadi perempuan sekuat ibuk. Setegar ibuk. Semandiri ibuk. Ada beberapa kata-kata juga di novel ini yang aku suka, yakni:

Baca Artikel Populer Lainnya

1 komentar:

  1. aku cemen baca buku kayak gini mba, khawatir mewek banget keinget perjuangan ibu hehe

    BalasHapus