Tentang Cinta#6

00.08 Muthi Haura 0 Comments


Hai, Assalamua’laikum. Gimana kabarnya dan sedang ngelakuin apa? Aku lagi nungguin adik-adikku pulang nih. Jadi ceritanya tadi si Naufal dan Dani izin makai motor buat salat dzuhur di masjid, tapi sampai sekarang belum pulang. Pasti kelayapan deh mereka.

Aku khawatir, soalnya si Naufal itu baru pandai naik motor. Semogalah mereka baik-baik saja. Amin! Kali ini aku pengen ngelanjutin cerbung Tentang Cinta. Udah lama nggak ngepost ini. Oke deh langsung saja, check this out:

Baca juga: Tentang Cinta#5


Tentang Cinta#6
Cinta tak butuh alasan. Saat cinta butuh alasan dan disaat alasan itu hilang. Cinta itu juga akan hilang bersamanya.


Kevin memain-mainkan senar gitar tanpa nada yang jelas. Muka cowok itu masih terlihat kesal. Kejadian semalam mampu membuat cowok itu benar-benar dalam kondisi badmood.

“Kak Ivin? Lo masih marah sama gue kak?” Ketukan dipintu kamar Kevin semakin kencang, membuat cowok itu melirik sekilas dan lalu mengacuhkannya. Kevin menaroh gitarnya dan merebahkan tubuh lelahnya diatas kasur.

“Kak? Gue boleh masuk?” Karla kembali mengetuk pintu kamar Kevin. Namun sama sekali tak ada jawaban. Karla meringis pelan. Kevin meraih selimutnya. Ditutupinya seluruh badannya. Cowok itu mencoba memejamkan mata dan mencoba untuk tidak bersikap peduli.

“Kayanya lo masih marah. Maafin gue kak. Maaf karna gue dah bikin lo khawatir semalam. Gue mau berangkat kuliah nih. Gue udah masakin sup ayam kesukaan lo kak!” ujar Karla panjang lebar.

Kevin membuka matanya dan menatap sekilas kearah pintu. Terdengar suara langkah kaki yang menjauh. Cowok itu menghela nafas. Bayangan wajah Karla memenuhi ruang kepala Kevin.
 

tentang cinta
source: google



Kevin menatap keluar rumah dengan gelisah. Berkali-kali cowok itu mondar-mandir didepan pintu. Raut wajah kecemasan terlihat jelas diwajah ganteng Kevin.

“Lo kemana sih Kar? Hujan udah berhenti, lo belum juga pulang.” Kevin meraih Hp-nya dan menekan nomor Karla, tapi seperti yang sudah-sudah. Nomor itu tidak aktif.

Kevin berjalan keteras rumahnya. Merebahkan tubuhnya pada kursi. Sebuah motor ninja berwarna hijau toska memasuki halaman rumahnya. Kevin menyipitkan mata saat melihat siapa yang ada diboncengan cowok bermotor ninja itu.

“Karla?” Kevin seakan tak percaya pada pandangannya. Cowok itu menelan ludah. Sebilah rasa sakit tiba-tiba mengiris hatinya. Karla menghampiri Kevin dengan senyuman yang tercetak dibibir tipis cewek itu.

Disamping gadis itu berdiri Adit. “Kak Ivin, maaf ya aku telat.” Karla bergelayut manja dilengan kakaknya. “Dari mana?” tanya Kevin ketus. Tatapan matanya yang dingin terarah pada Adit.

“Tadi hujan, makanya aku neduh digramedia. Untung ada Adit yang mau ngantar aku pulang.” Karla tertawa sumbringah. “Gue balik dulu ya Kar. Bye!” Dengan cuek Adit berbalik dan berjalan santai menuju motornya.

“Hati-hati Dit! Makasih ya!” Adit mengacungkan jari jempolnya dan mulai menjalankan motor ninja hijau toska itu. “Kenapa Hp lo mati?” Suara Kevin masih terdengar dingin.

“Hp gue habis batrai kak. Tadi juga mau nelpon ketelopon umum tapi teleponnya nggak nemu.”

“Oh! Lain kali jangan kaya gitu!” ucap Kevin sembari melepaskan tangan Karla dari lengannya. Cowok itu melenggang pergi dengan hati yang terasa hancur.


Kevin menghela nafas. “Maafin gue Aya. Gue nggak marah sama lo kok! Gue cuma—” Kevin menghentikan kata-katanya. Cowok itu menerawang kelangit-langit kamarnya. Cemburu! Kevin melanjutkan kata-katanya dalam hati.


Gue tau, harusnya gue nggak punya perasaan ini kan? Kita saudara kandung dan harusnya rasa ini nggak ada kan?

Gue udah ngecoba buat ngapus rasa ini, dan semakin gue berusaha ngapus lo dari hati gue, semakin rasa itu bertambah besar buat lo!Gue nggak tau apa yang salah dengan diri gue.
*@muthiiihauraa*

Karla menghembuskan nafasnya pelan. Penjelasan dosen tadi bagaikan ‘bullet train’ ditelinga Karla. Masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Saat ini gadis itu tengah terduduk ditaman belakang ruang kelasnya.

Karla menyenderkan kepalanya pada tembok dibelakangnya. Mata gadis itu terpejam pelan. “Hei! Ini juga tempat favorit gue tau kalau lagi bête.” Sebuah suara cowok mengagetkan Karla. Gadis itu membuka mata dan menyipitkan matanya saat menatap cowok yang sudah duduk disampingnya.

“Maksudnya apa? Gue nggak ngerti deh!” Cowok itu tersenyum. senyum yang sejujurnya mampu membuat beribu-ribu wanita bertekuk lutut. “Disini nyaman bukan?”  Karla mengangguk pelan.

“Karna disini nyaman kalau gue lagi badmood, gue suka banget kesini. Rasanya adem aja. Tempat duduk favorit gue juga disini, ditempat yang lo dudukin itu.” Karla manggut-manggut mengerti. Matanya menatap wajah Farran.

“Gue juga ngerasa nyaman disini Kak.”  Farran tersenyum. “Eh, haus nih gue.” Farran memegang lehernya dan mengelus-ngelusnya pelan. Karla mengernyit pelan. Sebelah alisnya ia naikkan beberapa senti meter. Perasaan gadis itu mulai terasa tak enak.

“Lo pasti mau nyuruh gue beliin lo minum kan Kak?” tanya Karla sembari menodongkan jari telunjuknya dihadapan Farran. Cowok itu tersenyum pelan, setengah menahan tawa. “Nah, tu kan lo tau!”

Karla meringis pelan. “Nggak mau! Pokoknya nggak! Nggak!” Tanpa sadar Karla menggeleng-gelengkan kepalanya. “Lo tau kan siapa gue?” tanya Farran sembari menatap wajah Karla. Dikuncinya mata coklat Karla sehingga cewek itu menjadi salah tingkah.

“Lo selalu gitu mah!” sungut Karla sembari mengalihkan pandangannya. Farran tertawa. “Nggak kok. Gue nggak nyuruh lo. Gue cuma mau ngajak lo jalan sekarang. Mau nggak? Gue tunjuin taman yang paling-paling indah.”

Karla menatap wajah Farran seakan nggak percaya. “Bener? Lo nggak bakal bohongin gue kan kak?”

“Emang tampang gue tampang pembohong ya?” Farran balik bertanya sembari melipat tangannya didepan dada. Karla menggeleng pelan. “Entahlah, tapi kayanya iya.”
       
“Enak aja. Jadi gimana? Mau kan?” Karla mengangguk.
*@muthiiihauraa*

Kevin melirik kekanan dan kekiri. Sesekali matanya tertuju pada jam Ripcurl yang melingkar gagah di tangan kirinya. Kevin mendesah pelan. Cowok itu mengacak-acak bagian belakang kepalanya. Merasa sedikit frustasi. Kemana sih tu orang?

“Eh, lo lihat Farran nggak?” Kevin mencegat seorang cewek yang lewat didepannya. Cewek itu tertegun dan seakan terpesona. Kevin tau suaranya yang nge – bass agak serak akan membuat para cewek seperti mendengar desahan lalu menatapnya penuh nafsu.
       
Cowok itu menghela nafas. “Lo lihat nggak?” tanya Kevin sedikit membentak. Ia kesal dengan cewek itu. “Nggak!” ujar sicewek sembari memamerkan senyuman termanisnya.

        Kevin seolah tak acuh. “Ya udah sana!” usir Kevin. Matanya kembali mencari-cari sosok Farran. Kemana sih tu kunyuk? Gue cari difakultasnya juga nggak ada. Apa dia lupa hari ini latihan music?

Kevin memandang sekelilingnya dengan kesal. Sebenarnya Kevin sama sekali tak berniat datang ke kampus, tapi mengingat band-nya akan tampil dua minggu lagi jadi mereka harus banyak latihan.

Kevin mengeluarkan Hp-nya. Tangannya mencari nomor Farran. “Cari siapa lo disini? Gue tau lo bukan anak Ilkom. Cari Karla?” Kevin mengernyit pelan. Matanya sinis menatap sosok jangkung dihadapannya. Cowok yang bersama Karla semalam?

“Apa urusannnya dengan lo?” Kevin bertanya dengan raut wajah sinis. Adit membalasnya dengan tawa sinis yang sama. Disandarkannya badannya pada sebuah pohon dan diilipatnya tangannya didepan dada.

“Ya ada dong! Ini kan fakultas gue.” Kevin kembali tertawa sinis saat mendengar jawaban abstrak dari Adit. “Gue nggak punya urusan apa-apa sama lo. Permisi!” ujar Kevin sembari berlalu meninggalkan Adit. Adit mendengus kesal. sial. Umpatnya.

“Dia kakaknya Karla tapi kenapa mereka nggak mirip ya?” Adit masih asik menatap kepergian Kevin sembari mendengus kesal. Rambut spikey yang teracak asal itu menambah kekaguman dari sang pemilik bola mata biru itu.
*@muthiiihauraa*

Farran mengajak Karla disebuah taman yang dipenuhi pohon-pohon rindang dan bunga-bunga yang bermekaran indah. Karla tampak berdecak kagum. Jujur, ia baru pertama kali kesini.

“Sumpah, ini keren banget!” desis Karla. Farran tersenyum. Farran dan Karla berjalan mendekati sebuah kolam air mancur. Didalam kolam itu tampak beberapa ikan yang tengah menari bebas. Karla tersenyum bahagia. Diulurkannya tangannya untuk menyentuh kepingan air yang jatuh dari air mancur tersebut.

“Lo suka?”

“Suka. Banget malah. Asli ini keren banget kak!” Cuaca sejuk yang mendukung. Karla menghirup nafasnya pelan, lalu membuangnya seakan sedang meditasi. Farran tersenyum menatap Karla.

“Kalau gue lagi sedih banget, gue pasti selalu kesini buat ngerenung. Disini bisa bikin kepala gue fresh dan terhindar dari hiruk pikuk Jakarta yang membosankan.”

Karla manggut-manggut mendengar penuturan Farran. “Gue setuju kak. Disini emang bikin fresh. Bukan hanya soal pemandangannya yang mengasikkan tapi juga suasananya yang tidak terlalu ramai.”

“Eh, kita duduk disaung itu yuk? Disana asik tau. Bisa ngelihatin awan biru yang berarak.” ajak Farran. Karla menyetujui usul Farran. Dua muda-mudi itu pun berjalan menuju saung yang hanya 10 meter dari kolam air mancur.

Lagi-lagi Karla menikmati udara ditaman ini. Udara segar yang sangat sulit didapatnya di Jakarta. Karla sama sekali tak tau nama taman ini dan cewek itu sama sekali tak berniat mencari tau.


Farran merebahkan tubuhnya sembari memandang langit biru saat mereka telah tiba di suang. “Keren banget kan ngelihat dari sini. Sayang nggak ada pantainya.”

“Wah, kalau ada pantai itu mah udah nggak taman lagi namanya Kak.” Farran tersenyum lebar. Entah kenapa kebersamaannya bersama Karla membuatnya begitu bahagia.
A moment in time, is all that’s given you and me, A moment in time, and it’s something you should seize, So I won’t make,(I won’t make) the mistake of letting go, Everyday you’re here, I’m gonna let you know,

       
Lagu westlife yang berjudul ‘moments’ mengalun dengan indah dari Hp Farran. Cowok itu merogoh Hp dari saku celananya. Farran mengernyit pelan saat matanya tertuju pada layar ponsel.

        Farran me-reject panggilan sipenelpon, lalu mematikan Hp-nya. Kevin? Mau ngapain dia ya? Sory Vin, gue lagi sibuk. “Kenapa nggak diangkat Kak? Ceweknya ya?” tanya Karla yang melihat raut perubahan diwajah Farran.

        Farran tersenyum pelan. “Nggak kok. Cuma teman. Malas kalau lagi tenang gini diganggu.”

        “Mana tau telpon penting lho kak!” Ternyata dia asik juga orangnya. Batin Karla. Farran kembali tersenyum sembari menggeleng pelan. “Tenang aja. Gue cuma lagi nggak pengen diganggu.” Ucap Farran. Apa lagi pas gue bareng lo! Farran melanjutkan kata-katanya didalam hati.

        Farran mengeluarkan kamera nixonnya. Cowok itu mulai memotren pemandangan yang ia suka. Karla berdiri dan membentangkan tangannya. Membiarkan tubuhnya terhembas bias lembut sang udara. “Gue suka disini!”


Bersambung!

Gimana? Gimana? Kepanjangan banget ya? Haha. Silahkan kritik dan saran untuk karya yang udah lama aku tulis ini ya. Mungkin segini dulu. Salam, @muthihaura_blog.
Minggu, 10 Juli 2018. 14.35 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

0 komentar: