Merantau ke Deli

12.55 Muthi Haura 1 Comments


Haai, Assalamua’laikum. Gimana kabarnya dan sedang ngelakuin apa? Kalau aku sedang menjalankan beberapa proyek, baik itu untuk channel youtube aku dan blog pastinya. Akhir-akhir ini, banyak hal yang pengen aku ceritain. Banyak kejadian yang tengah aku alami.

Tapi kayanya untuk saat ini, aku memilih untuk tidak menceritakannya terlebih dahulu karna satu dan lain hal. Mungkin nanti kalau semuanya udah aku anggap beres, aku bakal cerita agar mana tau bisa diambil pelajaran oleh teman-teman. Tapi tidak dalam waktu dekat ini.

Kali ini, aku pengen review novel sastra karya Buya Hamka. Aku baca ini udah hampir dua bulanan lebih dan baru sempat reviewnya sekarang. Novel aku beli seharga 50 ribu disalah satu toko buku yang baru buka didekat rumahku.  Merantau ke Deli sendiri adalah salah satu tulisan Buya Hamka yang ditulis sebelum perang dunia kedua dan rutin dimuat di Majalah Pedoman Masyarakat.

merantau ke deli
source: google

Sebenarnya agak-agak takut buat ngereview buku ini. Takut entar ada yang pro dan kontra dengan apa yang aku tulis mengingat Buya Hamka adalah sosok terkenal yang banyak dikagumi. Tapi baiklah, aku akan tetap ngereview sesuai sudut pandang aku.


Kalau dari segi cover, jujur, menurutku kurang menarik. Semisalnya aku tidak tau siapa penulisnya dan hanya ngelihat cover, mungkin aku tidak akan membeli buku ini. Tapi karna tau penulisnya adalah Buya Hamka, makanya aku beli deh.

Dari segi penulisan, Buya Hamka mah nggak perlu diragukan lagi. Tulisannya ngalir dengan alur maju. Sebagai pembaca, aku merasa bisa masuk dengan apa yang dirasakan si tokoh. Jujur, aku menangis saat bagian Poniem ‘dibuang’ oleh Leman. Padahal begitu banyak pengorbanan Poniem untuk Leman.

Ah, aku tak ingin spoiler. Baca sendiri saja jika penasaran. Novel ini juga menceritakan tentang adat Minang dan Jawa secara rinci. Dari novel inilah aku belajar terkait adat Minang dan Jawa. Selain itu, dari buku ini, aku melihat kisah perempuan yang dimadu dengan sangat jelas.

Bagaimana kehancuran rumah tangga dengan istri pertama, saat si lelaki memilih menikah lagi. Aku juga melihat, bahwa dengan istri kedua, kehidupan si lelaki itu justru semakin melarat. Walau bagaimanapun, dibalik suksesnya lelaki, pasti ada perempuan yang mendukungnya.

Lelaki saat awal-awal menikah, bukan siapa-siapa. Kebanyakan punya hartapun tidak. Si istri itulah yang ‘membantunya’ sukses. Setelah lelaki itu sukses, ia memilih menikah lagi dengan ‘mencampakkan’ istri pertama yang menemaninya berjuang sejak awal. Ah, kisah-kisah yang sering aku lihat juga di FTV.

Buku ini rekomendasi dibaca oleh laki-laki yang ingin berpoligami. Ah, aku tak ingin terlalu membahas itu, karna ilmukupun tentang itu masih dangkal. Novel ini cocok dibaca untuk remaja dan dewasa. Ada beberapa pelajaran yang aku dapat dari novel ini. Aku bakal jabarin, check this out:

Pertama, saat kamu terlahir sebagai laki-laki. Jadilah laki-laki yang cerdas. Jadilah laki-laki yang punya prinsip. Jadilah laki-laki yang tidak plin plan dan pandai mengambil keputusan. Karna kelak, saat kamu sudah menikah, kamulah yang akan mengambil keputusan untuk keberlangsungan hidup kamu dan keluargamu.

Kalau kamunya sendiri plin plan dan nggak pandai ngambil keputusan, ya mau gimana? Hal ini juga berlaku buat perempuan sih jika dia masih sendiri. Nanti sudah menikah, segala keputusan diambil oleh laki-laki, tapi tentu saja juga harus ada pertimbangan sang istri. Kedua, bagi perempuan, jika kamu sudah menjadi istri, patuhlah pada suamimu.

Patuhlah jika apa yang ia katakan dan apa yang ia minta itu sesuai syariat islam. Setelah menikah, bagi perempuan, surga dan nerakanya terletak pada kepatuhannya pada suami. Kalimat ini tentu saja buat diri aku sendiri. Self reminder buat diri sendiri.

Ketiga, saat kamu sudah menjadi istri, dukunglah apapun yang diperbuat suami jika itu baik. Bantulah semampumu. ‘Sukses’ tidaknya seorang lelaki, tentu ada perempuan dibelakangnya. Kalimat ini lagi-lagi juga buat aku. Intinya sih, buku ini ngajarin aku banyak hal. Ngebuka mata aku tentang banyak hal.

Oke deh mungkin segini dulu review buku ‘Merantau ke Deli’ dari aku. Semoga bermanfaat. Tungguin review buku lainnya ya. Kalau kamu sendiri, sudah baca buku ini? Atau lagi baca buku apa? Salam, @muthihaura_blog.
Rabu, 14 November 2018. 20.36 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

1 komentar:

  1. Wahhh bukunya buya hamka ya.. kisahnya itu jd penasaran baca selengkapnya..

    BalasHapus