Perempuan Independent

07.00 Muthi Haura 1 Comments


Jadi perempuan itu gampang-gampang susah. Senyum dikira murahan. Jutek dikira jual mahal. Nggak nyapa dikira sombong. Susah deh. Serba salah. Perempuan speak up pun diremehkan. Seolah-olah hanya lelaki yang punya ‘kuasa’ untuk menyampaikan pendapat.

Ya, sepertinya memang budaya patriaki di Indonesia ini sudah mendarah daging. Perempuan dipandang hanya boleh berprilaku lemah lembut, kalem, penurut, diam, dan segala ‘kepatuhan’ lainnya. Salah? Nggak. Sama sekali nggak salah.

Memang begitu seharusnya perempuan berperilaku dihadapan keluarga dan suaminya, tapi itupun jika keluarga dan suaminya itu mengarahkan perempuan tersebut ke ‘jalan’ yang benar. Kalau melenceng atau di KDRT-in mah ya musti speak up. Musti berani untuk nuntut hak pribadi.

Ya, ada batas dan waktunya kapan perempuan mesti ‘speak up’, kapan musti diam. Kalau hak-hak kita selaku perempuan tidak kita dapatkan atau kita dilecehkan, ya mesti speak up dong. Jujur, aku selalu suka dengan perempuan independent.


Independent dalam bayangan aku itu seperti ini, dia perempuan yang pintar. Berani menyatakan pendapatnya jika itu memang benar adanya. Dia perempuan yang mandiri secara financial dan secara tingkah laku. Dia bisa ‘berdiri’ dengan kakinya sendiri. Dia tau mana yang benar mana yang salah. Kehidupannya ia isi untuk hal-hal yang berguna.

Dia juga perempuan yang haus akan ilmu pengetahuan. Selalu ingin belajar, walau tidak melulu diruang kelas. Perempuan independent bukan berarti ia tidak membutuhkan laki-laki. Cuma ada ‘masa’ dimana ia bisa mengerjakan banyak hal sendiri.

Perempuan independent juga bisa dikenal dengan perempuan yang punya ‘power’. Dan terkadang, laki-laki takut untuk menikahi perempuan independent. Kalau menurutku, jika laki-laki itu memang merasa punya power, ia tidak akan takut untuk menikahi perempuan yang juga punya power.

Seharusnya jika keduanya sama-sama punya power, maka rumah tangga yang akan dibangun itu akan memiliki ‘kekuatan’ lebih. Perempuan tidak akan membuatmu powerless, justru jika berdua jadi lebih powerful ya kan?

Kalau katanya Hanif sih, seindependent-independentnya seorang perempuan, kalau dihadapan lelaki yang ia sayang, ia pasti akan menunjukkan sisi ‘keperempuanan’ dia yang manja, lemah lembut, dan sisi-sisi lainnya. Seolah-olah sikap ‘jutek, cuek, judes, egois, ceplas-ceplos, sok merasa bisa mengerjakan banyak hal sendiri’nya itu lenyap. Ya, jika berhadapan dengan laki-laki yang ia sayang.

Aku rasa, perkataan Hanif ada benarnya juga. Jadi jangan takut deh buat lelaki. Dan nggak semua perempuan independent itu ‘jutek, cuek, judes, ceplas-ceplos’ ya. Cuma disekitar aku dari apa yang aku lihat dan perhatikan, rata-rata perempuan independent itu memiliki sifat itu.

Kalau di Indonesia sendri, ada beberapa perempuan yang aku suka karna keindependentan dia. Karna ke’strong’an dia. Karna beraninya dia speak up untuk sesuatu masalah yang mungkin perempuan-perempuan lainnya hanya bisa diam.

Nggak perlulah aku masukin istri-istri Rasul ya, karna sudah jelas mereka itu perempuan independent yang memang patut jadi panutan. Perempuan-perempuan yang aku sebutkan ini bisa dibilang aku kagum dengan mereka. Najwa Shihab. Jelas, siapa tidak mengenal beliau bukan?

najwa shihab
source: google

Aku selalu suka ngelihat mbak Nana ngomong. Semua apa yang ia sampaikan selalu ‘berisi’. Kelihatan pintarnya. Trus juga Gitasav. Lagi-lagi pintar. Pokoknya bagi aku pribadi, aku selalu suka perempuan pintar. Kepintaran seseorang itu bisa dilihat dari apa yang ia bicarakan. Apa yang ia tulis.

gitasav
source: blog pribadi Gitasav

Selain Gitasav, ada juga Sophia Mega. Dia perempuan ‘penggila’ buku. Dia punya blog dan juga channel youtube seputar buku. Buku yang paling sering ia baca terkait feminism. Dan perempuan independent lainnya adalah seorang beauty blogger, Adhelia.

Adhel sebenarnya nggak hanya punya blog sih, dia juga punya channel youtube. Dari bagaimana dia ngomong dan dari apa yang ia tulis, aku bisa menyimpulkan kalau dia perempuan yang pintar. Dia selalu mengkampanyekan perihal self love dan bullying.

Ya, semasa disekolahnya, ia pernah dibully karna kulitnya yang gelap. Dan sekarang, dia menjadi seorang beauty blogger dan mengkampanyekan untuk mencintai diri sendiri, bagaimanapun bentuk tubuhnya. Bagaimanapun warna kulit.

Aku selalu kagum dengan perempuan-perempuan independent. Semoga kelak, aku bisa menjadi salah satu diantara mereka. Yang bisa menginspirasi sekililingnya bahwa perempuan itu kalau dia berprestasi memiliki nilai lebih. Yang bisa mengatakan pada dunia bahwa walaupun kita perempuan, kita juga bisa loh.

Oke selamat berkarya. Ini tulisan hanya hasil pemikiranku saja. Boleh sependapat dan boleh tidak. Salam sayang, @muthihaura_blog.
Kamis, 13 Desember 2018. 15.58 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

1 komentar:

  1. Awal-awal baca tulisan ini langsung kepikiran Gitasav. Ee benr juga dia salah satu wanita yg independent 👌😊

    BalasHapus