Self Love

07.00 Muthi Haura 0 Comments


Aku pernah berada dititik terendah. Titik dimana aku ngerasa kalau aku nggak berharga. Titik dimana aku membenci diriku sendiri. Aku membenci semua yang ada pada diriku. Ya, semuanya! Hampir tiap malam saat aku SMP, aku nangis. Rasanya, nggak ada yang bisa dibanggakan dari seorang Muthi Haura.


Aku nggak cantik. Nggak pintar. Berkulit kusam. Jerawatan. Kurus dan bla bla lainnya. Jika kamu mengenalku dulu, kamu pasti tau bagaimana ‘parahnya’ aku. Bahkan juga sampai saat ini. Aku nggak bilang kalau sekarang aku cantik ya, sama sekali nggak. Tapi sekarang, aku jauh lebih bisa mengapresiasi diriku.


Aku jauh lebih bisa menghargai diriku sendiri. Aku sudah bisa memfilter mana omongan orang yang harus aku masukan ke otak dan hatiku, mana yang hanya sebatas angin lalu. Ya, aku udah nggak peduli sekarang ini untuk semua omongan orang yang negatif tanpa solusi. Hey, mereka hanya tau namaku, tidak dengan cerita hidupku.


Bullying yang paling parah aku terima itu saat aku duduk dibangku SMP. Itu termasuk kategori penjatuhan mental yang teramat sangat. Aku dikucilkan anak satu kelas dan dianggap ‘sampah’. Tau kan sampah? Sesuatu yang sangat menjijikan yang jangankan bersentuhan, melihat saja sudah mual. Kurang lebih seperti itulah.

Itu mengapa aku sangat membenci masa SMP. Kalau hidup punya tombol delete, aku ingin sekali mendelete masa itu dan ‘membuang’ semua orang-orang yang ada didalamnya. Tapi sayangnya, hidup tak pernah punya tombol delete. Sekeras apapun aku ingin menghapusnya, nyatanya aku nggak bisa.

Tapi aku bersyukur karna hidup tak menyediakan tombol delete layaknya laptop, karna dari pengalaman itu aku belajar banyak hal. Apa yang aku alami dulu ‘membentuk’ aku yang sekarang. Memasuki masa kuliah, aku sudah mulai mencintai diri sendiri, walau belum sepenuhnya.

Walau bullyan itu tetap masih ada. Yang paling menyakitkan itu saat orang yang kamu cintai, mengomentari fisikmu. Ya, aku pernah suka cowok dan kalau dipikir-pikir itu cowok seharusnya bukan untuk aku cintai.

Baca juga: TENTANG KAMU


Sekarang, perasaan aku ke dia udah mati seiring berjalannya waktu. Aku sekarang sedang dekat dengan seseorang yang aah, aku tak ingin menceritakannya. Untuk saat ini, dia terlalu berharga untuk diumbar sana-sini. Nanti saja, jika sudah waktunya, aku akan cerita. Doakan saja.

Setelah aku menamatkan strata satuku, aku udah pada tahap menyayangi diri sendiri. Aku udah mulai nyaman dengan diriku sendiri. Dengan apa yang ada pada diriku. Walau ya, masih belum full, karna berada pada tahap yang betul-betul mencintai diri sendiri itu butuh effort besar. Mungkin dibandingkan saat masih kuliah, aku sudah mencintai diriku saat ini itu udah 85 %, sedangkan saat kuliah masih 60%.



Nggak mudah memang berdamai dengan diri sendiri. Nggak mudah harus betul-betul membuka mata dan menerima kekurangan diri sendiri. Tapi jika bukan kamu yang menerima dirimu sendiri, lantas siapa lagi? Kalau bukan kamu yang mencintai dirimu sendiri, lantas siapa? Bagaimana mungkin orang lain bisa mencintaimu sepenuh hati jika kamu tidak mencintai dirimu sendiri?

anime travelling
source: google

Jika cantik menurutmu adalah dengan travelling sana sini. Naik gunung A, B, C, bahkan D, tanpa peduli kulit wajah menggosong, maka lakukanlah. Jika cantik menurutmu bermake up. Perawatan sana sini, bahkan ke dokter kulit yang super mahal agar terlihat cantik, lakukanlah.

Baca juga: CANTIK ITU…?



Jika cantik menurutmu adalah membaca setumpuk-tumpuk buku dengan kaca mata tebal yang membingkai matamu. Tak peduli gemerlapnya dunia luar karna kesenanganmu ada pada buku, maka jika itu cantik menurutmu, lakukanlah.

Jika cantik menurutmu harus berkutat didapur dengan berbagai macam rempah untuk menghasilkan masakan yang enak. Tak peduli wajah dan badan terkena bau-bauan dari aroma bumbu, justru itu malah kamu sukai, lakukanlah.

Jika cantik menurutmu adalah dengan baju olahraga dan keringatan sana sini demi memasukan bola ke gawang. Tak peduli senggolan lawan yang kadang bikin meringis. Jika itu definisi cantik menurutmu, lakukanlah.

Ya, lakukan semua apa yang kamu suka. Itu salah satu cara mencintai diri sendiri. Tak usah dengerin kata dan komentar orang. Yang tau dirimu ya kamu sendiri. Tak usah peduli dengan standart cantik yang ditanamkan oleh media. Harus putih, langsing, berbibir tipis, berwajah mulus, begitu kan standar media? Mungkin media sedang membutuhkan boneka berbie, bukan manusia. 

self love
source: google

Bagaimanapun kamu. Apapun jenis kulitmu. Seperti apapun bentuk badanmu, cintailah dirimu sendiri. Self love. Tapi jika ada dari dirimu yang tidak membuatmu nyaman, rubahlah. Jadikan dirimu lebih baik sesuai versi terbaik dirimu.

Lah Mut, bukannya mencintai diri sendiri itu berarti menerima ya? Kenapa disuruh rubah? Menurutku, mencintai diri sendiri bukan berarti tidak boleh merubah sesuatu yang tidak membuatmu nyaman. Yang dirubahpun bukan sesuatu yang udah Allah tetapkan untuk tidak bisa dirubah. Jika kamu punya hidung pesek, itu sesuatu yang tidak bisa dirubah, ya sudah syukuri. Alternative ‘merubahnya’ ya dengan belajar make up terkait pershadingan.

Jika kamu kurus/gemuk dan kamu tidak ngerasa nyaman dengan itu, ya kamu bisa merubah dirimu untuk melakukan diet pola makan sehat. Kalau kamu benar-benar mencintai dirimu, kamu nggak akan memasukan ‘racun’ ketubuhmu. Racun apa? Ya junkfood dan lain sebagainya. Atau kamu berlebihan makan gorengan sehingga badanmu melar, terus setelah itu kamu beralasan bahwa badan melar itu tak apa karna kamu sudah mencintai dirimu sendiri.

Alah, bullshit. Coba tanya baik-baik pada hatimu, kamu yakin nyaman dengan badan itu? Kalau tidak, rubahlah dengan pola hidup sehat. Olahraga, makan makanan sehat. Bukankah itu bukti mencintai diri sendiri sebenarnya? Asal nggak diet ekstrim yang aneh-aneh aja. Begitu juga kalau kamu punya badan kurus.

Jika kamu punya jerawat dan kamu ngerasa self love dengan jerawat itu lantas kamu membiarkannya saja, itu mah bukan self love, tapi malas. Kamu dikatakan mencintai dirimu sendiri saat kamu bisa merawat apa yang Allah kasih itu dengan baik. Ya, self love berhubungan erat dengan self care.

Jika kamu selalu rangking terakhir dikelas dan kamu sama sekali tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki nilaimu dengan alasan self love, itu mah bukan self love. Kalau aku pribadi, aku mencoba jujur pada diriku sendiri. Aku membuat list-list kekurangan dan kelebihan yang aku punya. Dari list kekurangan, aku bikin spesifik lagi, kekurangan yang bisa dirubah dan yang tidak alias emang dari sononya.

Kelebihan yang ada, semakin aku push untuk semakin ‘terlihat’, sedangkan kekurangan yang bisa dirubah, sedang aku usahakan untuk ngerubahnya. Sekarang self care yang sedang aku lakukan adalah, aku membiasakan diri membaca buku dalam sehari. Aku wajib harus skincare-an bagaimanapun ngantuk atau capeknya atau malasnya.

Aku membiasakan diri dalam sehari itu untuk belajar Bahasa Inggrish. Aku semakin rajin belajar masak. Aku belajar mengatur waktu dan keuangan dengan baik. Aku belajar banyak hal yang ingin aku pelajari, termasuk tentang make up. Aku dengerin channel-channel youtube yang bermanfaat. Ya, itu caraku. Caraku mencintai diriku sendiri.

Aku mencintai diriku, makanya aku belajar merawatnya. Tak peduli apa kata orang. Tak peduli komentar orang. Aku ya aku. Kamu benci aku, itu urusanmu. Urusanku hanya untuk terus berkembang menjadi lebih baik disetiap harinya. Semangat mencintai diri sendiri. Mari self love dengan self care. Salam, @muthihaura_blog.
Selasa, 18 Desember 2018. 22.18 WIB.

 

Baca Artikel Populer Lainnya

0 komentar: