Persahabatan di Usia 20-an

07.00 Muthi Haura 3 Comments


Sahabat adalah orang yang selalu ada disampingmu saat selurun dunia berkata kamu tak lagi berharga. Sahabat bukan ia yang datang lebih dulu, bukan ia yang lebih lama kamu kenal, tapi ia yang datang dan tak pernah memilih pergi apapun kondisi kamu. Bagaimanapun kamu.

Sahabat adalah orang yang mengangkatmu disaat sayapmu patah. Ya, itu definisi sahabat bagiku. Definisi yang aku agung-agungkan tentang sebuah ‘persahabatan’. 

 

Baca juga: WISUDA


Tapi disaat usia memasuki 20-an, apalagi kalau sudah sama-sama tamat kuliah. Semua definisi itu buyar. Semua tentang persahabatan yang selalu ‘ada’ disamping itu bullshit. Aku bukan menyalahkan sahabat-sahabatku, tapi memang ‘masanya’ telah habis.


EMTRI, Ika, Ijah, Ayung, Ides, Maknyin, Nazlah, Lelek, Ama, Desnoy, Chrystin, dan yang lainnya, semuanya telah ‘pergi’. Masing-masing mereka sudah punya kehidupan sendiri. Persahabatan itu pasti sampai kapanpun, tapi di usia kami 23-an gini, persahabatan bukan lagi sebuah prioritas.

Baca juga: SAHABATGAGASAN
Baca juga: EMTRI



Tidak ada yang salah. Tidak ada yang perlu disalahkan. Setiap orang ada masanya, tiap masa ada orangnya. Di usia segini, focus hidup bukan lagi tentang ‘persahabatan’. Bukan lagi tentang hanya ketawa haha hihi sambil menggosip perihal cowok.

Bukan lagi tentang dosen A killer, dosen B pelit nilai, dosen C bla bla bla. Bukan lagi tentang ‘hari ini, kita mau kemana?’ ‘pakai baju warna apa biar barengan warna’. Bukan lagi tentang merajuk-merajukan karna tidak diajak disalah satu event. 

sahabat

Ya, bukan lagi tentang semua itu. Persahaban akan ‘lekang’ oleh waktu dan masa, tapi tidak dengan orang-orang yang terlibat didalamnya dan semua kenangan yang pernah ‘ada’. Aku bersyukur punya blog. Setidaknya, banyak waktu bersama sahabat-sahabatku yang aku tulis disini. Setidaknya, aku ‘merekam’ mereka di diary online aku ini.

Kelak, jika aku rindu pada mereka dan semua kenangan itu, aku masih bisa membukanya lagi. Masih bisa membacanya lagi. Untuk semua sahabat-sahabatku, dimanapun mereka berada, untuk semua hal yang pernah kita torehkan bersama. Untuk semua cerita yang kita tulis bersama. Untuk semua pelajaran indah yang kalian beri.

Untuk selalu menguatkan aku disaat jatuh. Pokoknya untuk semua hal itu, dengan tulus, kuucapkan trimakasih. Kejar apa yang ingin kalian kejar. Raih apa yang ingin kalian raih. Akupun begitu. Aku akan berfokus menggapai apa yang ingin aku gapai. See you at the top. Sampai jumpa di puncak kesuksesan! Jangan pernah lupakan kenangan ‘tentang kita’ ya.

Di usia 20-an ini, sahabat memang bukan prioritas. Masing-masing lebih focus ke diri sendiri. Yang menemani disisi bukan lagi ‘sahabat’, tapi ‘partner’. Partner lawan jenis yang bisa dibilang juga, teman hidup. Ya, memang masanya seperti ini lagi.

Mungkin tugas ‘sahabat’ menemani telah selesai, saatnya tugas itu dilimpahkan kepada ‘partner’ hidup. Memang, ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan dengan sahabat, tapi bisa diwujudkan dengan parner. Sahabat memilik ‘batas’, tetapi partner tidak. Hingga akhir hayat.

Nah, di usia segini, saatnya menemukan partner yang tepat. Bagaimana caranya? Focus belajar. Hebatkan dirimu dulu, maka yang akan datang padamu juga semoga orang yang tengah menghebatkan diri. Kembangkan diri. Kembangkan skill. Yang paling terpenting, dekati Allah. Self reminder sih buat diri sendiri.

Dan bagi yang sudah menemukan, tapi masih berstatus ‘pacar’ atau teman dekat, kamu juga harus terus mengembangkan diri. Jangan terlalu bergantung, karna dia belum tentu menjadi partner hidupnya. Oke deh mungkin segini dulu cuap-cuap a.k.a beropini dari aku. Salam sayang, @muthihaura_blog.
Sabtu, 19 Januari 2019. 18.10 WIB.
 

Baca Artikel Populer Lainnya

3 komentar:

  1. Terkadang sebuah persahabatan akan mulai merengang dikala dikikis oleh banyak aktivitas pribadi, apalagi sahabat kita sudah merid, mmmm.... kita seperti sendirian di dunia ini. :)

    BalasHapus
  2. Hihi.. Betul kak, semakin kita dewasa, ada perubahan yang terjadi dalam persahabatan. Dan semoga meski kita tak sering bertemu kualitas persahabatannya tetap terjaga. Hihihi.. di usai 20 tahun ke atas, saya memilih journal sebagai sahabat kak. Saya bisa bercerita dan berkeluh kesah padanya. Hahahaha.. paling tidak, jika kita punya problema ada sosok yang bisa kita ajak berbagi. Termasuk benda mati 🤭🥰❤️🥰❤️

    BalasHapus
  3. setuju mba dulu aku dan sahabat juga gitu eh pake baju ini yuk barengan, eh kita kumpul di mall ini jam segini tapi sekarang sahabat aku yang masa kuliah intens hanya di WAG itupun sekedar curhat ngelantur :p

    BalasHapus