Meningkatkan Kepercayaan Diri

07.00 Muthi Haura 1 Comments


Hidup itu punya banyak fase. Ada fase dimana kamu down. Ada fase dimana kamu senang. Ada fase dimana kamu sangat membenci hidupmu. Ya, semua ada fasenya, tinggal bagaimana cara kamu menyikapi fase-fase tersebut. Dan kini, aku ngerasa berada pada fase dimana aku ‘malas’ bertemu orang lain, bertemu orang baru.

Aku tau ini nggak sehat. Seharusnya di umur segini, aku lagi menyibukkan diri membangun dan mencari link. Tapi entah kenapa selepas wisuda April 2018 lalu, aku seperti kehilangan kepercayaan diri. Aku seperti enggan untuk menyapa dunia luar. Tepat April 2019 nanti, berarti resmi setahun sudah aku melepas ‘status’ mahasiswa.


Baca juga: CERITA WISUDA
Baca juga: SELF LOVE


Sudah cukup tua ternyata dan aku semakin kekanak-kanakan. Aku seperti menarik diri dari dunia luar. Aku malas bertemu orang baru. Aku malas keluar untuk menyapa teman lama. Aku malas kalau ada kumpul keluarga. Alasanny simpel, aku bosan ditanya kapan nikah. Aku bosan ditanya pekerjaan aku apa, yang aku jelaskanpun, banyak yang nggak ngerti.

Aku bilang pekerjaanku freelance nulis, blogger juga. Trus banyak yang nggak paham. Dijelasinpun juga nggak paham. Dipikiran masyarakat kebanyakan, pekerjaan yang menjanjikan itu ya PNS. Udah beberapa kali juga keluargaku menyarakan aku untuk ikut PNS, tapi entah kenapa, belum tergerak hati ini.

tidak peraya diri
source: google

Hal lain yang aku malesin untuk keluar rumah adalah, aku malas nyetrika baju. Aku malas make upan, trus dihapus lagi. Trus kalau ada nikahan teman, alasan nggak masuk akal lainnya yang akan aku utarakan didiri aku adalah: Malas ah datang, nggak punya baju pesta. Nggak punya sepatu pesta. Nggak bisa make up yang cetar gimana gitu.

Entar ketemu teman lama, trus mereka pada udah sukses-sukses, entar aku minder sendiri. Dan berbagai alasan lainnya. Iya, sebodoh itu. Entah hanya aku yang ngalamin hal kaya gini atau memang wajar? Entahlah! Trus kemudian, aku ketemu temanku si Azizah Limbong yang biasa aku sapa, Ijah. Kami sharing banyak hal, termasuk tentang ‘fase’ yang tengah aku alamin ini.

Dia ngata-ngatain aku. Ngatain kebodohan yang aku buat. Secara nggak langsung sebenarnya aku nutup banyak pintu rezeki. Ijah bilang, aku itu terlalu banyak alasan. Nggak berani keluar dari zona nyaman. Ya ya, aku akui, mungkin aku memang seperti itu.

Trus Ijah juga bilang: “Keluarlah. Mandi, bermake up, ko itu pernah jadi wartawan. Tau kan penilain orang pertama kali itu dari penampilan? Mandi dan keluarlah! Kalau nggak punya waktu untuk nyetrika baju, laundry. Tiga ribunyah sekilo. Jangan banyak alasan. Kalau mau beralasan, aku juga bisanyah. Aku yakin ko lebih paham dari aku, ko kan lebih pintar dari aku. Bla bla bla.”

Kurang lebih gitu katanya. Entah kenapa, sehabis sharing dengan Ijah, aku benar-benar ngerasa ketampar. Kata-katanya itu terngiang-ngiang dibenak aku. Nyampai rumah, aku langsung bikin to do list hal-hal apa saja didiri aku yang bikin aku nggak pede dan masih bisa dirubah.

Beberapa list aku itu adalah, aku nggak pede dengan jerawat diwajah, trus aku bikin solusinya. Kalau aku punya jerawat, berarti aku harus lebih rajin bersihin wajah, rajin maskeran, imbangi juga dengan pola hidup sehat. Aku nggak pede karna nggak pandai make up, solusinya, aku harus lebih rajin lagi nontonin tuteriol make up di youtube dan instagram.

Trus aku juga harus rajin praktek make up sekaligus ngumpulin uang untuk ngelengkapi ‘alat’ make up. Aku juga nggak pede dengan barang-barang yang aku punya, entah baju, tas, sepatu, dan lain sebagainya. Solusinya, aku list kan juga barang-barang apa saja yang harus aku beli baru, tentu saja belinya yang branded sekalian, biar makin percaya diri.


alat make up
source: google

Bukan berarti aku langsung beli barang-barang itu. Sama sekali nggak. Bertahap. Kalau fee cair, beli satu dulu, gitu seterusnya. Aku juga nggak pede karna sekarang rasanya otak aku kurang up date. Otak aku kurang ‘isinya’, akhirnya aku bikin solusi kalau aku harus dan wajib baca buku entah berapa lembar dalam sehari. Dalam seminggu, aku juga harus beli koran biar bisa tau informasi-informasi terbaru.

Dan masih banyak lagi list-list yang ingin aku rubah dari diri aku untuk meningkatkan kepercayaan diriku. Dan hampir semingguan ini, aku ngelakuin semua itu. Aku mandi pagi, make up-an, pakai pakain yang bagus, trus keluar rumah. Entah kemana, yang penting keluar.

Kebukti, pas aku ketempat Ijah, aku ngerasa lebih percaya diri. Aku ngerasa orang-orang lebih ngehargai aku ketimbang saat aku masih kucel-kucel. Memang, penampilan itu penting banget sih. Walaupun kamu sudah punya seseorang yang menerima kamu apa adanya, penampilan tetap harus diperhatikan.

Baca juga: CANTIK ITU?


Pas ditempat Ijah itu, aku jadi kenalan dengan beberapa temannya Ijah. Alhamdulillah. Solusinya memang harus mulai keluar dari zona nyaman. Jangan beralasan untuk banyak hal. Jujur sama diri sendiri juga penting. Mungkin apa yang aku sharingkan ini bisa membantu kamu untuk meningkatkan kepercayaan diri.

Dari cerita dan penjelasan di atas, aku bakal jabarin singkat apa yang harus kalian lakuin untuk meningkatkan kepercayaan diri. Pertama, jujur sama diri sendiri, apa kurangnya dirimu. Apa yang mesti dirubah. Tubuh manusia itu kaya fitur, kalau kamu nggak suka terhadap salah satu fitur itu, kamu bisa ngerubahnya.

Jika tidak bisa merubah fitur itu karna memang mungkin udah ketetapan Allah, kamu bisa lebih ‘menonjolkan’ fitur lain. Kedua, setelah ngelist, cari solusi dari masing-masing list tersebut. Dan yang ketiga a.k.a terakhir, lakukanlah. Disiplinlah!

Oke deh, mungkin segini dulu tips meningkatkan kepercayaan diri ala aku. Semoga bermanfaat ya. Salam sayang, @muthihaura_blog.
Minggu, 10 Februari 2019. 11.20 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

1 komentar:

  1. Sepertinya usia kita beda tipis, Mbak. Nggak beda jauh sama aku juga. Dimana rasanya waktu bersenang-senang di luar sudah habis saat sekolah dan kuliah. Aku lebih nyaman di rumah. Tapi aku nggak separah seperti cerita Mbak sih hehee. Alhamdulillah ya kalo sekarang sudah rajin mandi dan make up. Oya, ini pengalamanku sih. Menurutku ketika kita ditanya tentang nikah, sebenarnya kita bisa mengendalikan hati dan pikiran kita. Sebelum lulus, aku merasa tertekan sekali ditanya orang kapan lulus, karena jujur waktu itu aku juga pengen cepet lulus jadinya dalam diriku sendiri juga ada tekanan. Nah, untuk nikah ini aku orang yang selow gitu, jodoh pasti dating pada waktunya. Ketika orang tanya kapan nikah, aku tetap selow. Ya karena aku sudah yakin pada prinsipku. Jadi mungkin itu ada tekanan dari diri Mbak juga. Kalau kita bisa mengelola hati, insyaallah omongan orang akan seperti angina lewat kok. Hehee :)

    BalasHapus