[Review buku]: Secangkir Kopi Bully

07.00 Muthi Haura 0 Comments


Hai, Assalamua’laikum. Bagaimana kabarnya dan sedang ngelakuin apa? Sore ini hujan. Suasana yang asik untuk nulis. Dari dulu selalu pengen banget nulis dimalam hari dibalkon rumah tingkat, trus ditemani hujan. Atau nulis ditepi pantai sambil nyeduh segelas coklat panas.

Wiih, pasti ide-ide pada keluar semua tuh hehe. Sekarang nulis dirumah ditemani hujan dulu juga nggak apa-apa deh. Sebenarnya banyak banget yang pengen aku ceritain, terutama tentang someone. Tapi kapan-kapan aja deh hehe. Belum waktunya.


Oya, tahun ini, aku nargetin untuk bisa baca 20 buku. Sedikit sih dibandingkan teman-teman yang lainnya, tapi lumayanlah buat aku yang sok sibuk ini. Alhamdulillah dibulan kedua tahun 2019 ini, aku berhasil nyelesaian baca dua buku.



Harus lebih ditingkatkan lagi ya Mut. Kurangi malasnya. Ingat semua impian. Ingat semua target. Buku yang baru selesai aku baca itu judulnya ‘Secangkir Kopi Bully’ karya Paresma Elvigro. Paresma Elvigro sendiri adalah nama pena dari mbak Yanuarty Paresma Wahyuningsih yang biasa kusapa mbak Emma


Aku udah lumayan lama kenal dengan penulisnya. Berteman di facebook, tapi sekarang lost kontak. Secangkir kopi bully ini sendiri menceritakan kisah bully yang dialami mbak Emma sendiri dilengkapi tips and trick menghadapi bully tersebut. 

secangkir kopi bully


Menyelami kisah bully yang dialami mbak Emma, membuat aku merasa sedikit bersyukur. Ternyata bullying yang pernah aku alami nggak separah apa yang dialami oleh mbak Emma. Yah, walau tetap saja namanya bullying pasti membekas.


Baca juga: #10YEARSCHALLENGE


Sampai saat ini, apa yang aku alami dulu, ngebentuk aku yang sekarang. Untungnya, aku bisa bangkit. Aku bisa tetap semangat untuk berprestasi. Aku nggak berpikiran bodoh untuk ngakhirin hidup aku. Aku suka membaca kisah-kisah bullying yang dialami mbak Emma.

Bukan maksudnya aku senang dengan apa yang dialaminya, nggak sama sekali. Aku seperti bisa masuk kedalam cerita-cerita itu. Cuma yang kurang aku suka pas di bab awal. Jujur, agak ngebosenin, karna terlalu panjang banget penjelasan tentang bullyingnya.

Bagus sih, Cuma bagi aku pribadi agak bertele-tele. Bahasanya juga terlalu baku. Mungkin bagi yang lain asik, tapi kalau di aku kurang sih hehe. Buku ini cocok dibaca untuk remaja awal bahkan dewasa. Covernya sendiri bernuansa coklat muda dengan gambar cangkir kopi yang ada sayapnya.

Aku kurang paham makna dari cangkir kopi bersayap ini hehe. Kalau aku pergi ke gramedia, trus ngelihat cover buku ini, mungkin aku kurang sreg untuk beli. Ini beli karna kemaren ada diskon, tapi ternyata isinya bagus. Kalau kata adik di organisasi si Azizah Sipayung, buku ini bikin dia nangis. Di aku sih nggak sampai bikin nangis.
 

review buku



Font-font didalam bukunya besar dan nggak dempet-dempet, jadi asik dibaca. Ada beberapa pelajaran yang aku ambil dari buku ini. Pertama, kalau kamu di bully, kasih cetak biru dikeningmu. Jadikan bullyan itu sebagai motivasi agar kamu terus maju.

Tanamkan kedirimu bahwa kamu bisa lebih baik dari apa yang pembully itu katakan. Kamu Cuma punya dua tangan yang berfungsi untuk nutupin kedua telingamu bukan untuk ngebungkam mulut-mulut orang lain. Apapun yang mereka katakan, kamu tidak akan pernah jatuh. Ibarat bola kasti, semakin dipantulkan kebawah, maka ia akan semakin melambung tinggi.

Aku ada bikin video kata-kata tentang bully. Bisa ditonton disini. Yang kedua, kalau mau menegur anak pelaku bully, hindari mengatakan kata ‘bodoh’, ‘nakal’, dan kata negatif lainnya. Beberapa psikolog sepakat bahwa kata negatif tidak pantas ditujukan oleh orang tua kepada anak. Ketika orang tua terbiasa mengatakan kata-kata negatif kepada anaknya, maka secara tidak langsung, anak akan menjadikan kata negatif tersebut sebagai penyebut identitas dirinya.

Ketiga, jika anak kamu di bully, jadilah pendengar setia baginya. Beri dukungan positif. Bila sang anak menangis, peluklah ia. Jangan langsung mengambil langkah untuk melampiaskan emosi kepada pembully.

Sebenarnya masih banyak pelajaran yang dapat aku tangkap dari buku ini. Tapi untuk sekarang tiga itu aja deh dulu. Satu kalimat yang aku suka yang aku ambil dari buku ini adalah: ‘Kamu tidak bisa bersembunyi dari siapa dirimu, kamu bisa menolaknya atau lari darinya. Tapi kamu tidak akan pernah bisa melarikan diri dari dirimu selamanya”.

Oke deh, mungkin segini dulu. Salam sayang, @muthihaura_blog.
Senin, 11 Februari 2019. 12.18 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

0 komentar: