[Review Buku]: Si Parasit Lajang

11.21 Muthi Haura 0 Comments


Hai Assalamua’laikum. Udah lama rasanya nggak prepare nulis untuk blog. Akhir-akhir ini, badan kurang fit disebabkan satu dan lain hal. Jadi bisanya Cuma rebahan di atas tempat tidur. Kalaupun agak enakan, ide untuk nulis yang mentok hehe.

Tapi Alhamdulillah sekarang jauh lebih ngerasa sehat. Jauh lebih ngerasa fit. Jadi semangat lagi untuk ngewujutin target-target di 2019 ini. Jadi semangat lagi untuk #2019JadiLebihBaik. Ada banyak hal yang sedang diperjuangkan. Ada banyak hal yang sedang diusahakan.

Semoga Engkau semogakan Ya Allah. Aku tau bahwa setiap rencanaMu pasti selalu indah. Aku yakin bahwa apa yang Engkau ‘gariskan’ padaku adalah sesuatu hal yang baik. Aku hanya bisa untuk terus berusaha. Nah, awal bulan Januari ini, aku berhasil menyelesaikan buku karya Ayu Utami dengan judul Si Parasit Lajang.


Si parasit lajang


Aku mengenal nama Ayu Utami sudah sejak lama. Namanya seperti melegenda. Tapi aku baru benar-benar membaca karyanya itu baru akhir-akhir ini. Terlambat memang, tapi lebih baik dari pada tidak sama sekali, bukan?

Ayu Utami sendiri seorang perempuan beragama Katolik yang memiliki pemikiran ‘tidak biasa’. Ya, itu menurutku. Jarang ada perempuan Indonesia yang cara berpikirnya seperti seorang Ayu Utami. Dari apa yang ia tuliskan di buku ini, tentang pemikiran-pemikirannya, aku dapat menyimpulakan bahwa ia adalah sosok perempuan yang pintar.
 

Ayu utami si parasit lajang



Sosok perempuan yang melihat sesuatu tidak hanya dari satu sisi, tapi juga dari sisi lainnya. Open minded. Bukan berarti aku menyetujui semua pemikirannya. Tentu tidak sama sekali. Ada beberapa bahkan banyak pemiirannya yang kurang aku setuju. Mungkin karna ‘bias’ dari agama yang aku yakini dan dari bentukan lingkunganku.

Duh, jadi bawa-bawa istilah-istilah jurnalistik di tulisan haha. Rindu liputan sih. Oke deh balik lagi ke buku Si Parasit Lajang ini. Buku ini berisi berbagai pemikiran Ayu Utami tentang pernikahan, seks, film porno, artis film porno, keperawanan, dan pemikiran lainnya.

Hal yang mungkin agak ‘tabu’ jika diceritakan perempuan-perempuan Indonesia pada umumnya. Membaca buku ini, kadang aku dibuat mengangguk-angguk menyetujui dan kadang tidak. Buku ini bagus dibaca oleh mahasiswa-mahasiswi. Untuk remaja, boleh, tapi sebaiknya dibawah pengawasan orang tua.

si parasit lajang


Oya, dari segi sampul. Sampulnya itu ala-alla vintage dengan perpaduan banyak gambar. Ada gambar putri duyung, singa, dan lain sebagainya. Aku kurang nangkap apa maksud gambar-gambar di cover itu. Mungkin karna isi bukunya beragam kali ya pembahasannya, makanya gambar di covernya juga beragam.

Atau mungkin ada maksud lain? Bagi yang tau, boleh share di komen ya. Kalau aku ke toko buku dan sedang nyari buku, jujur, jika tidak tau siapa penulisnya, aku nggak bakal beli. Soalnya menurutku, covernya kurang ‘menggigit’.

Mungkin karna seleraku lain kali ya. Tiap orang kan memang punya ‘selera’ berbeda-beda. Buku ini aku pinjam dari salah satu adik di organisasi yang aku ikutin. Kebetulan dia maniak buku banget. Bahasa yang dipakai dibuku ini santai, nggak berat, dan apa adanya. Mengambarkan sosok ‘Ayu Utami’ banget yang kalau ngomong apa adanya.

Buku ini termasuk dalam Trilogi: Si Parasit Lajang-Cerita Cinta Enrico-Pengakuan Eks Parasit Lajang. Ada beberapa hal yang aku pelajari dari buku ini. Pertama, aku suka cewek pintar kaya Ayu Utami yang ‘berani’ menyatakan pendapatnya. Aku jadi belajar, bahwa perempuan memang harus berani menyampaikan pendapatnya baik itu lewat media tulisan, bahkan lisan.

Sekarang zamannya kebebasan berpendapat. Bukan Cuma untuk lelaki, tapi juga perempuan. Salut atas tulisan Ayu Utami yang berani keluar dari garis yang mengatakan perempuan harus begini harus begitu harus bisa ini bisa itu.

Kedua, dari buku ini aku belajar dan tau tentang sedikit banyaknya bagaimana seseorang yang hidup dizaman Soeharto. Jadi tau bagaimana dibredelnya Tempo, karna pada zamannya Soeharto kebebasan pendapat itu belum bisa.

Yang ketiga, buku ini berisi berbagai pemikiran yang mungkin ada yang tidak aku setujui, tapi bukan berarti aku membenci buku ini. Sama sekali tidak. Kalau bagi aku, kita boleh belajar banyak hal, dari mana saja, dari apa saja, dan dimana saja.

Tapi bukan berarti harus semuanya di ‘iya’in atau dimasukin ke otak. Apapun itu, filter dulu. Kalau menurut kamu itu bagus, terima. Kalau nggak, ya udah buang, tapi jangan dicela. Alangkah indahnya saling menghargai. Keempat, aku jadi tau beberapa hal tentang seks, kondom, dan lain sebagainya.

Hey, usia aku 23 tahun, kayanya usia yang termasuk wajar untuk belajar hal-hal seperti itu kan? Lagian aku rasapun, pendidikan seks sejak dini itu penting untuk anak. Itu menurut aku loh. Sekali lagi, kita nggak harus punya satu pemikiran yang sama kan? Kembar sekalipun tidak akan memiliki isi otak yang sama.

Oke deh mungkin segini dulu review dari aku. Silahkan kalau ada yang ingin baca juga. Sekarang aku lagi baca buku ‘Secangkir kopi bully’ karya Paresma Elvigro. Tungguin reviewnya juga ya. Salam sayang, @muthihaura_blog.
Senin, 28 Januari 2019. 22.11 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

0 komentar: