Sejam di Bukittinggi

09.43 Muthi Haura 0 Comments


Hidup bukan hanya tentang perjuangan, tapi juga perjalanan. Karna sejatinya, sebuah perjalanan akan mengajarkan banyak hal. Akan menorehkan banyak kisah. Akan membuka mata bahwa dunia itu luas, beragam suku bangsa. Beragam bahasa.

Aku suka travelling. Aku suka mengunjungi tempat-tempat baru. Aku suka bertemu orang-orang baru disetiap perjalanan. Aku suka memandangi persawahan. Aku suka hal-hal  ‘baru’ disetiap perjalanan yang membuat mataku terbuka tentang banyak hal.

Ya, intinya aku suka travelling dan aku ingin mengunjungi banyak tempat. Itu impianku. Dulu, kupikir, aku akan mengubur mimpi itu dalam-dalam mengingat situasi dan kondisi, tapi ternyata selalu ada jalan. Kamis, 28 Februari lalu, aku dan salah C melakukan sebuah perjalanan. C siapa? Seseorang yang bisa dibilang sahabat, teman, partner.

 

Bisa dibilang, ini perjalanan nekat kami yang pertama dan aku berharap, ini bukan yang terakhir. Semoga ada ‘perjalanan-perjalanan’ lainnya yang akan ditembuh. Semoga saja. C mengajakku ke Sumbar, Bukittinggi. Tentu saja aku sangat ingin, tapi mengingat kondisi adik-adikku yang tidak bisa ditinggal dirumah, aku selalu menolak ajakan teman-teman untuk berpergian yang mengharuskan menginap.

Tapi perjalanan kali ini beda. Kami akan trip ke Sumbar dengan jarak tempuh pulang pergi 12 jam dalam sehari. Pergi memakan waktu enam jam, pulang enam jam. Malamnya, aku harus udah ada di Pekanbaru, dirumah. Perjalanan balek hari yang aku nggak pernah berpikir akan melakukannya.

Biasanya kalau ke Sumatera Barat itu nginap, tapi kali ini nggak, BALEK HARI! Sempat was-was, apalagi ngelihat cuaca yang kadang hujan kadang panas. Takut pas diperjalanan cuaca nggak bersahabat. Atau saat tiba di Sumbar, hari hujan deras yang berarti, aku nggak bisa balek ke Pekanbaru. Dan yang berartinya lagi, adik-adikku akan cemas dirumah tanpa aku saat malam hari.

Atau tiba-tiba motor yang kami pakai bocor dipertengahan jalan. Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Sempat aku berpikir untuk membatalkan perjalanan ini, tapi hati kecilku yang lain mengatakan jangan. Kalau nggak dicoba, kita nggak akan tau hasilnya kan? Kalau nggak dicoba, kita nggak akan belajar banyak hal kan?



Alhamdulillahnya, perjalanan pulang pergi kami lancar, walau sempat beberapa kali gerimis.  Aku dan C mengadakan challenge, jadi saat pagi akan berangkat, kami sama-sama nggak mandi. Kebetulan sore sebelum berangkat itu juga, kami nggak mandi. Memang 24 jam nggak mandi. Maafkan kejorokan kami ini haha.

Kami berangkat kurang lebih jam 07.30. Di Kampar sempat berhenti sebentar untuk makan lontong sekitaran jam delapanan. Diperjalanan, kami jarang berhenti. Paling berhenti hanya untuk buang hajat. Untuk istirahatpun tidak. Ngejar waktu memang, tapi aku senang. Akhirnya bisa refreshingkan otak. Bisa ngelihat pemandangan yang hijau-hijau. Bisa ngehirup udara Sumbar yang sejuk plus ngerasain airnya yang dingin.



Nyampai Sumbar, nggak afdal pastinya kalau nggak poto di kelok Sembilan. Kalau nggak salah, kami di kelok Sembilan udah jam 11-an. Setelah poto, langsung cus ke Bukittinggi. Nyampai Bukittinggi jam 12-an. Keliling-keliling nyari tempat pas untuk parkir motor.
 

kelok sembilan
kami di kelok sembilan

Btw, sekedar informasi bagi yang belum tau, Bukittinggi menurut Wikipedia adalah kota dengan perekonomian terbesar kedua di Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kota ini pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Kota ini jga pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatera dan Provinsi Sumatera Tengah

Di Bukittingi ada banyak obyek wisata, diantaranya ada: jam gadang, lobang jepang, bukit ngarai takuruang, lembah ngarai sianok, janjang saribu bukittingi, benteng for de kock, jembatan limpapeh, museum rumah adat banjuang, museum rumah kelahiran bung hatta, museum tri daya eka dharma, dan lain sebagainya. Pokoknya kalau ke Sumatera Barat, kata orang, kalau nggak berpoto di Jam Gadangnya, itu berarti belum nyampai Sumbar haha. Kalau kamu ke Bukittingi dan mau nginap, banyak kok disekitaran Jam Gadang itu hotel. Penginapan sederhana juga ada.

jam gadang


Setelah ngetake beberapa poto di Jam Gadang, C ngajak aku ke toko yang jual kaus Kapuyuak. Nah, salah satu icon khas Sumbar yang terkenal itu kaus Kapuyuaknya. Sebenarnya aku rada kesal, soalnya di Jam Gadang serasa baru sebentar. Baru dudukin pantat, C ngajak pergi.

Tapi aku sadar kondisi, dia buru-buru gitu karna ngejar waktu agar aku sampai rumah tepat waktu. Harusnya aku berterimakasih kan sama dia. Keliling-keliling, akhirnya nemu juga toko Kapuyuak. C beli satu kaus. Aku? Oh tentu saja nggak haha. Lumayan mahal untuk ukuran kaus. Satu kaus bisa sekitaran 90-150 ribu.

Setelah belanja kaus, kami muter-muter nyari dimana kami parkir motor. Sempat salah jalan juga gegara C kepedean tau jalan, akhirnya nyasar. Nyasarnyapun cukup jauh. Jam dua-an, kami balik pulang. Yap, OTW Pekanbaru lagi. Kalau dihitung-hitung, kami di Bukittinggi kurang lebih Cuma sejaman haha.

Sempat singgah buat beli nasi juga, makannya di masjid, sekalian C mau sholat. Kebetulan aku lagi nggak sholat. Diperjalanan pulang, kami makan durian. Total ngababisin uang untuk perjalanan ke Sumbar ini aku pribadi sih cuma 30 ribu. Uang bensin dan uang makan kami pakai dari uang tabungan yang kami tabung tiap minggu.

Jadi Alhamdulillah nggak berasa ngeluarin uang banyak. Untuk C, trimakasih. Trimakasih udah bantu mewujudkan mimpi aku. Trimakasih udah sangat sabar ngadepin aku. Semoga ini bukan trip pertama dan terakhir kita ya. Amin! Oke deh, mungkin segini dulu cerita sejaman di Sumbar dari aku. Salam sayang, @muthihaura_blog.
Minggu, 3 Maret 2019. 12.28 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

0 komentar: