Berkarya Tak Harus Mahal

07.00 muthihaura 3 Comments


Berkarya Tak Harus Mahal- “Aku pengen jadi penulis, tapi aku nggak punya laptop”, “Aku pengen ngeblog, tapi aku nggak punya kamera untuk poto-poto yang bakal dimasukin ke blog”, “Aku pengen jadi youtuber, tapi hapeku nggak mendukung untuk bikin video dan editing”, “Dirumahku nggak ada wifie, jadi aku nggak bisa ngapload video youtube”.

Aku nggak punya ini nggak punya itu nggak bisa ini nggak bisa itu bla bla bla. Kata-kata yang sering banget aku dengar dari orang-orang disekitarku. Selalu menyalahkan keadaan untuk sesuatu yang tidak ia punya. Selalu merasa nggak bisa berkarya dan nggak bisa ngelakuin sesuatu hanya karna nggak punya ‘alat’.

Selalu merasa hidupnya nggak seberuntung orang lain dan kemudian lantas menyerah. Memupuk keirian terhadap orang lain tanpa berusaha memperbaiki kualitas hidupnya sendiri. Kebanyakan orang-orang yang aku temui seperti ini. Bukannya menjudge, jujur, aku juga pernah berada di ‘fase’ ini, bahkan mungkin sampai detik ini.

anime gagal
Merasa gagal. source: google

Aku pernah ingin merasa berhenti. Pernah ngerasa semua hal yang aku lakukan itu akan berakhir dengan kesia-siaan. Pernah ingin lari. Pernah ingin menstop semua karya-karya. Ya, karna aku ngerasa, aku nggak bisa apa-apa. Aku nggak punya alat mumpuni untuk menunjang semua karya-karyaku. Aku nggak punya kamera. Aku nggak punya miroclass.

Aku nggak punya smartphone berspesifikasi tinggi yang bisa membantu untuk ngeblog, ngeyoutube, ngebuzzer, dan untuk jualan. Aku nggak punya laptop kualitas bagus yang bisa dipakai ngedit video. Rumahku nggak dilengkapi wifie untuk menunjang proses berkaryaku lewat youtube, maupun blog.

Aku nggak punya ‘semua’ alat itu. Sedikit cerita, aku suka menulis sejak SD. Jika ada yang bertanya apa cita-citaku, dengan percaya diri seorang Muthi Haura kecil akan menjawab ‘aku ingin menjadi penulis’. Mungkin karna tau passion sejak dini, aku selalu mengikuti estrakulikuler disekolah yang selalu berkaitan dengan menulis.

Aku bukan terlahir dari keluarga kaya. Bahkan saat SMP saja, salah seorang guru membolehkanku menggunakan komputer sekolah karna diantara semua teman-temanku, hanya aku yang saat itu tidak memiliki komputer. Naik kelas tigaan SMP kalau nggak salah, baru deh dirumah ada komputer.

Komputer yang jadi rebutan aku bareng adik-adikku. Btw, adik-adikku lima orang ya. Dari komputer itulah aku mulai menulis. Menulis apa saja, entah itu curhatan bahkan cerita pendek. Yang sebelumnya Cuma bisa nulis di buku tulis atau buku binder, akhirnya sangat senang bisa nulis di komputer berwarna putih yang bisa dibilang agak lemot.

Pertama kali aku nulis novel itu disaat SMP. Ditulis tangan dibinder, trus bindernya entah sengaja entah nggak dijatuhin sama salah seorang temanku. Itu kertas novelnya berserak. Nggak tau lagi ini tulisan dibagian mana, dibab berapa. Ini aku ingat banget dan rasanya sakit.

Saat SMP juga, aku udah mulai jadi langganan warnet. Biasanya tiap siang sabtu sepulang sekolah, aku bakal ke warnet. Di warnet, aku ngopy paste semua tulisan-tulisan yang ingin aku baca. Nantinya tulisan-tulisan itu aku baca di komputer rumah. Smartphone? Jangankan smartphone, hape senterpun saat itu nggak punya ;’)

Memasuki SMA, aku nggak punya motor, jadi dari rumah ke sekolah naik bus. Pernah ngekos, tapi nggak bertahan lama. Seperti biasa, tiap sabtu sepulang sekolah tetap ke warnet. Ada peningkatan saat SMA, Alhamdulillah sudah punya hape senter dan notebook acer hadiah ulang tahun.

Sejak punya notebook, aku makin gencar menulis. Suka beli majalah story dulu. Ngumpulin setiap edisinya dan nyoba-nyoba ngirim tulisan sendiri, tapi nggak pernah dimuat haha. Btw, notebook acer itu yang kemudian menemani aku hingga aku menyelesaikan skripsiku ;’)

Baca juga: SKRIPSI

Memasuki bangku kuliah, aku nggak punya motor, juga masih makai hape senter. Juga masih sekali dalam seminggu itu ke warnet untuk sekedar mengepost blog, membaca cerita, atau mencari tugas. Tapi nyatanya semu itu nggak menghalangi aku untuk berkarya. Semua alat itu tak menghalangi aku untuk berproses menjadi lebih baik disetiap harinya.

Baca juga: KULIAH

Aku kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi konsetrasi Broadcasting, tapi aku nggak punya kamera, nggak punya laptop yang bisa editing, tapi IP-ku nggak pernah dibawah 3,50. Bahkan saat yudisium, IPK-ku nomor urut kedua setelah pemuncak jurusan. Aku juga berhasil menerbitkan dua naskah novel di penerbit mayor. Satu dalam bentuk cetak, satu e-book.


Juga memiliki beberapa antologi naskah. Dipercayakan juga sebagai Pimpinan Redaksi dua periode di organisasi yang aku ikutin. Semuanya itu aku jalanin dengan tidak memiliki alat yang mumpuni. Dan sekarang aku aktif ngeblog. Dapat uang dari blog dan sosial media. Sering dikirimin barang-barang gratis. Bisa beli apa yang aku inginkan dengan uang sendiri. Bisa ke Yogya Sumbar Medan gratis

Semua itu membuat banyak yang komentar: “Enak ya Mut kerja ko”, “Enak ya Mut dapat barang gratis aja”, “Ajarinlah bla bla bla”, “Enak ya bla bla”, dan berbagai komentar lainnya. Mereka Cuma ngelihat aku yang sekarang tanpa tau prosesnya. Mereka hanya tau ‘enaknya’ tanpa tau apa yang ada dibelakangnya. Tanpa tau bagaimana aku berproses hingga bisa mendapati apa yang kata mereka ‘enak’.

Mereka pikir aku punya alat yang mumpuni hingga aku bisa menghasilkan karya-karya, padahal satupun ‘alat’ penunjang sejak awal aku berproses itu, aku nggak punya. Baru sekarang bisa terbeli satu persatu dan itupun bukan yang harga mahal. Bahkan laptop asus yang sekarang aku pakai ini aku beli seken.

Aku nggak mengada-ngada. Emang seperti itu adanya. Teruntuk teman-teman yang ingin berkarya, ayo mulailah. Kurangi melihat ‘kesuksesan’ orang lain karna hal ini akan membuat kamu iri. Ingat, tanaman tetangga emang selalu terlihat lebih indah. Itu karna tetangga kamu sibuk ngurusin tanamannya, sedangkan kamu hanya bisa melihat tanpa berbuat apa-apa dengan tanaman-tanamanmu.

ANIME BERPROSES
Proses itu kadang melelahkan. source: google

Kamu hanya lihat ‘enaknya’ tanpa tau proses dibelakangnya. Mulailah kembangkan dirimu. Asah skillmu dan hasilkan karna dibidang yang kamu sukai. Kamu nggak punya laptop? Bisa menulis dibuku terlebih dahulu. Kamu nggak punya motor untuk kemana-mana? Angkutan umum banyak yang bisa mengantarkanmu.

Kamu nggak punya hape yang mumpuni? Gunakan internet di warnet dengan sebaik-baiknya. Kamu nggak punya kamera? Bisa pinjam teman atau sewa untuk belajar photography. Kamu ingin jadi youtober? Bisa mulai bikin video dan editing di hape.

Yang terpenting dari semua alat itu adalah memulai. Percayalah, alat-alat itu akan mengikuti dengan seiring berkembangnya kualitas dirimu. Jangan ragu jangan minder, karna kalau kamu tidak memulai dari sekarang, lantas kapan lagi? Jangan mau hanya menjadi penonton atas kesuksesan orang lain. Jadilah pemain!

Kamu punya segudang ‘alat’ lengkappun nggak menjamin kamu akan menghasilkan banyak karya kalau dari diri kamunya sendiri tidak berusaha untuk memulai. Ibaratnya gini deh, seseorang yang diberikan dapur super lengkap sekalipun tidak akan bisa menghasilkan apa-apa jika ia hanya duduk diam di dapur itu.

Beda dengan seorang yang hanya punya dapur ‘seadanya’ tapi dia bisa memaksimalkan dengan baik, pasti akan menghasilkan makanan yang lezat. Intinya semua itu tergantung pada dirimu sendiri. Berkarya itu tak harus mahal, tinggal diri kamunya sendiri, mau atau nggak. Salam, @muthihaura_blog.
Minggu, 19 Mei 2019. 15.41 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

3 komentar:

  1. Rumput tetangga lebih hijau karena ngga bantu nyiramin hehehe btw saya punya laptop saat kuliah tingkat tiga hiks tapi Alhamdulillah lulus cumlaude, tetap semangat! Karena 1 alasan untuk sukses namun sejuta alasan untuk gagal.

    BalasHapus