Memandang Sesuatu dari Dua Sisi

10.56 muthihaura 1 Comments


Aku nggak tau ini postingan sejenis apa. Mungkin sedikit curhatan mengingat sudah lama aku tidak berbagi kisah disini. Namaku Muthi. Usiaku genap 24 tahun di 1 Juni lalu. Tua memang. Ah, tapi tidak juga. Menjadi perempuan di usia 24 tahun itu ternyata ‘lumayan’ berat. Ditambah lagi beban sebagai ‘kepala keluarga’.

Ternyata nggak mudah. Aku nggak bilang susah, hanya saja memang tidak mudah. Banyak hal yang sudah kulalui dalam hidup ini. Banyak juga pengalaman yang sudah aku rasakan. Parahnya, ada banyak orang yang kutemui, seenaknya memberi ‘nilai’. Seenaknya memberi ‘cap’ bahkan label.

“Lihatlah, si Muthi itu gini gini gini. Si Muthi itu bla bla bla. Si Muthi itu ABCDEFGH bla bla,” Si Muthi itu gini. Si Muthi itu gitu. Memberi label pada aku, padahal jelas-jelas mereka nggak tau sama sekali tentang aku. Kamu hanya tau namaku, tapi tidak dengan cerita hidupku.


anime gagal
source: google

Kamu hanya tau apa yang terlihat dihadapan matamu, tanpa tau struggle apa yang aku jalanin dalam hidupku. You don’t even know my journey, lantas kenapa kamu memberi label? Kenapa kamu menjudge seolah-olah kamu tau segalanya tentang aku?

Kenapa kamu hanya mendengar omongan orang tentang aku hanya dari satu sisi? Kenapa kamu tidak mendengarkan ‘cerita’ itu dari versi aku sebelum kamu memberi label? Kenapa kamu tidak memandang sesuatu dari dua sisi? Atau cerita itu membuat kamu puas dengan memberi label padaku? Kamu ingin aku jatuh? Untuk dihargai dihormati disegani, kamu tak harus menjatuhkan orang lain. Tunjukan saja prestasimu. Tunjukan sesuatu yang bisa membuat orang yakin bahwa kamu memang ‘berharga’.

Nggak ada gunanya kamu sampai puncak dengan menginjak-injak orang lain. Tak ada gunanya kamu berada ‘diatas’ dengan menjatuhkan orang lain. Belajarlah melihat segala sesuatu dari dua sisi, karna apa yang menurutmu benar, pendapatku pun menurutku benar.  Jadi tidak ada yang salah, bukan?

Jika kamu benar-benar ingin memberi ‘label’, dengarkan cerita versiku dan dengarkan juga versi dari orang lain, baru setelah itu kamu bisa menyimpulkan. Baru setelah itu kamu bisa memberi label. Ya, begitu. Lihatlah segala sesuatu dari dua sisi! Ah, kata-kata di atas tidak ditujukan pada siapa-siapa.

Bukan untuk siapa-siapa, lebih buat ngingetin diri aku sendiri agar jangan keseringan mengambil keputusan tanpa melihat dari dua sudut pandang. Aku juga nggak pernah tau struggle apa yang mereka jalanin dalam hidup mereka, jadi aku berusaha untuk tidak memberi label pada siapa-siapa.

Aku sedang berada di fase tidak ingin membenci siapa-siapa hanya karna persoalan yang ‘sepele’. Aku sedang berada di fase, aku ingin fokus terhadap apa yang aku tuju. Terhadap mimpi-mimpiku. Terhadap masa depanku. Karna ada hal penting kedepannya lagi yang lebih butuh di prioritaskan.

Iya gitu, karna hidup sesederhana itu. Fokus terhadap apa yang ingin dituju tanpa peduli ‘gangguan’ sekitar. Kalau ibarat pribahasanya mah, anjing menggonggong, kafilah berlalu. Fokus fokus fokus sampai dapetin apa yang dituju, karna usaha tak kan pernah mengkhianati hasil.

Apa yang ditanam hari ini, itu jualah yang akan dituai nantinya. Kalau kamu hanya sibuk  dengan menebar kebencian, maka itu jugalah nantinya yang akan kamu dapatkan. Mari sama-sama intropeksi diri. kalau hanya satu orang atau dua orang yang membencimu, mungkin letak kesalahannya itu pada diri dan sifat orang tersebut.

Tapi jika yang membencimu itu sekelompok orang, coba intropeksi diri, mungkin letak ‘masalahnya’ ada di kamu. Mari belajar. Mari terus semangat berproses dan memperbaiki diri. Bismillah untuk masa depan. Fighting!

Selasa, 6 Agustus 2019.

Baca Artikel Populer Lainnya

1 komentar:

  1. Aku juga sering banget ngerasa hal yang sama kayak kamu dan emang ngeselin banget, tapi setelah dipikir-pikir juga aku beberapa kali juga pernah melakukan judging ini dengan aku utarakan ataupun hanya dalam hati saja. Jadi emang intropeksi diri akan membuat diri jadi lebih baik dan tenang :)

    BalasHapus