[Review Buku]: Pengakuan Eks Parasit Lajang

07.00 muthihaura 0 Comments


[Review Buku]: Pengakuan Eks Parasit Lajang- Hai, Assalamua’laikum. Bagaimana kabarnya di bulan Agustus ini? Nggak kerasa ya udah Agustus 2019, perasaan baru kemaren bikin target di awal tahun. Perasaan baru kemaren capek-capek wisuda. Perasaan baru kemaren :’)

Ah, nggak kerasa. Memang waktu itu akan terus bergulir. Tak peduli kamu berteriak tunggu. Tak peduli kamu memintanya berhenti. Waktu akan terus berjalan. Jadi ajang intropeksi banget nih, apa yang sudah aku lakuin di 2019 ini? Sudah berapa banyak target yang aku gapai?

Sudah berapa jauh aku berjalan mendekati-Nya? Sudah berapa banyak amal yang aku persiapkan untuk menuju-Nya? Sudah berapa banyak buku yang aku baca? Melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu membuatku sadar bahwa aku belum ada apa-apanya.


Masih sering aku lalai. Masih banyak target yang aku sepelekan. Masih banyak kerjaan yang aku lakukan dengan tidak sebaik-baiknya. Masih banyak pengalaman yang belum aku cecap. Masih banyak buku yang tidak sesuai target untuk aku baca. Introfeksi banget. Jangan lalaikan waktu lagi, Mut.

In syaa Allah nggak lagi. In syaa Allah akan berusaha sebisa mungkin untuk terus berproses memaksimalkan waktu dengan baik. Mencari pengalaman, memperbanyak link, dan membaca banyak buku. Ngomongin buku, aku jadi ingat buku yang udah aku baca beberapa minggu yang lalu.

Buku karya Ayu Utami. Buku terakhir dari seri trilogi. Buku pertama berjudul Si Parasit Lajang, Cerita Cinta Enrico, dan yang terakhir buku ini, Pengakuan Eks Parasit Lajang. Ketiga buku ini saling berkesinambungan. Setiap ceritanya memiliki keterkaitan, walaupun kalau dibaca sendiri-sendiri sih tetap dapat menikmati satu kisah utuh dalam buku, Cuma kalau menurut aku, memang lebih asik dibaca dari buku pertama.

pengakuan eks parasit lajang
Cover buku
Cover buku Pengakuan Eks Parasit Lajang ini didominasi dengan warna hijau pekat. Ditengah cover ada judul yang melingkari gambar perempuan berwarna coklat. Duh gimana cara jelasin biar lebih enak dibaca ya. Gini deh, jadi sampulnya itu berwarna hijau gelap. Ditengah cover ada gambar atau sejenis sketsa perempuan berwarna coklat. Nah, judulnya melingkari tubuh perempuan di gambar tersebut.

Gitu deh pokoknya. Kalau menurut aku, aku kurang paham makna pengambilan cover seperti ini. Menurut aku terlalu ‘penuh’. Di cover depan ini juga ada bintang-bintang berwarna kuning bertaburan, trus disamping gambar si cewek, dikelilingi warna oren kemerahan kaya api.

Kalau aku ke gramedia dan ingin membeli buku, jika hanya melihat sampul tanpa tau nama si penulisnya, mungkin aku nggak terlalu tertarik untuk membeli. Itu aku ya, belum tentu pendapat kamu gimana, soalnya apa yang bagus menurut aku, mungkin saja tidak bagi kamu.

cover pengakuan eks parasit
cover belakang

Di cover bagian belakang, ada sinopsis buku ini dan biografi singkat seorang Ayu Utami. Isi sinopsisnya begini:

Pengakuan Eks Parasit Lajang adalah otobiografi seksualitas dan spiritualitas pertama di Indonesia. Kisah nyata ini ditulis dalam bentuk novel dengan tokoh A, seorang perempuan yang memutuskan untuk melepas keperawanannya di usia dua puluh, untuk sekaligus menghapus konsep keperawanan yang baginya tidak adil.

Selama tahun-tahun berikutnya, yang ia coba lakukan dalam hidup pribadi adalah melawan nilai-nilai adat, agama, dan hukum yang patriakal. Tapi ia berhadapan dengan fakta bahwa patriaki adalah kenyataan sejarah. Adakah jalan keluar dari sana? Menyesalkah ia sehingga memutuskan menjadi “Eks Parasit Lajang”?

Yap, itu sinopsisnya. Dari sinopsisnya, udah ada gambarankan buku ini menceritakan tentang apa? Buku ini menceritakan dengan sangat gamplang tentang si A dan lawan-lawan jenisnya. Ayu Utami menceritakan secara gamplang dengan bahasa yang mudah dipahami, tapi jujur, ada beberapa bagian yang aku skip karna menurut aku agak membosankan.

pengakuan eks parasit lajang

Jadi di buku itu, diceritakan bahwa A tidak ingin menikah. Nggak menikah bukan berarti tetap perawan. A menceritakan dari awal kisah ia melepas keperawanannya sampai akhirnya ia memutuskan untuk menikah. Ya, sejenis buku pertualangan sex si A. Aku salut dengan keberanian seorang Ayu Utami menceritakan hal yang mungkin bagi masyarakat Indonesia hal yang tabu.

Aku juga belajar banyak dari buku ini, walau nggak semua part aku setuju. Namanya juga manusia dengan berbagai macam pikiran, iya kan? Buku ini sendiri, diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia dengan 307 halaman.

Ayu Utami sendiri adalah seorang perempuan yang menurut aku independent. Pemikirannya luar biasa. Out of the box. Ayu Utami juga pernah mendapat penghargaan sastra dari dalam dan luar negeri. Novel pertama seorang Ayu Utami berjudul Saman, pernah diterbitkan dalam delapan bahasa asing.

Buku ini sendiri memiliki pembatas yang gambarnya sama dengan cover depan. Dibagian bawah pembatasnya tertulis: “Aku tidak akan setia pada lelaki, tetapi aku akan setia pada manusia”. Buku ini menurut aku cocok dibaca oleh 18 keatas.

Oke deh, mungkin segini dulu review singkat dari aku. Semoga dapat bermanfaat. Salam sayang, @muthihaura_blog.
Rabu, 7 Agustus 2019. 21.19 WIB.

Baca Artikel Populer Lainnya

0 komentar: