Tentang Mimpi #19

 

19

            Nasya mematut dirinya didepan cermin. Sesaat gadis itu tertegun saat dilihatnya pantulan dirinya dicermin. Manis dan anggun. Jilbab biru muda pemberian Davi menjuntai indah, begitu juga dengan dress panjangnya.

            Hari ini memang Nasya ingin melihat keaadan Davi, tentu saja dengan hadiah pakain pemberian Davi. Nasya berharap semoga dengan ia memakai pakain hadiah dari Davi, lelaki itu jadi semakin semangat untuk sembuh.

            Nasya merapikan jilbab birunya, lalu kemudian melangkah keluar kamar. “Waw, kak Sya cantik banget!” Teriak polos Al yang memandanginya dengan mobilan ditangan. Nasya tersenyum, lalu menghampiri Al.

            “Cantik ya? Makasih sayang!” Nasya membelai lembut rambut bocah kecil itu.

            “Subhanallah. Cantik Sya, anggun lagi.” Andi yang baru keluar dari kamarnya menatap anak gadisnya itu dengan takjub. “Kamu lebih bagus dan anggun kaya gini.” Ujar Andi lagi.

Tentang Mimpi #18

 

18

“Manusia hanya bisa berencana dan hanya Allah yang menentukan.”

            Kafta menoleh pada Atar yang duduk disampingnya. Lelaki itu tampak gagah dengan stelan putih khas baju pengantin. Hari ini adalah hari bahagia untuk Kafta, dimana ia telah resmi menjadi istri dari seorang Atar Saputra. Gadis itu sangat bersyukur karna memiliki keluarga yang mau mendukung semua keputusannya, begitu juga dengan keluarga Atar.

            Tak perlu perundingan lama untuk menentukan segala tetek-bengek pernikahan karna baik keluarga Atar ataupun keluarga Kafta mau bekerja sama dengan baik. Dan tepat ditanggal 19 Juni ini acara pernikahan mereka digelar di Indonesia, di hotel Jiraya.

            “Lo cantik hari ini.” Atar menggenggam lembut tangan kanan Kafta, diikuti senyuman tulus lelaki itu. Kafta membalas senyum Atar. “Lo juga ganteng banget hari ini.”

            Disaat teman-teman seusia mereka tengah sibuk bermain bahkan gonta-ganti pacar atau aborsi, mereka menetapkan pilihan untuk berkomitmen. Kafta menghela nafas pelan sembari matanya menatap satu persatu tamu yang tengah menikmati santap malamnya.

 

            Awal kehamilan ini, gue ngira hidup gue bakal berakhir. Semua mimpi gue hancur disebabkan oleh kenikmatan sesaat. Masa depan gue terasa suram! Tapi mungkin gue termasuk orang yang beruntung. Allah masih sayang sama gue. Gue masih punya keluarga yang mau nerima gue apa adanya. Gue punya lelaki yang mau bertanggung jawab atas tindakannya.

            Kalau nggak? Mungkin hidup gue bakal benar-benar the end! Gue berharap semoga Cuma gue yang ngerasain hamil diluar nikah gini, mudah-mudahan nggak ada gadis-gadis lainnya. Mending kejar semua impian dulu, baru mikirin nikah!

 

            “Hey ngelamun apa?” Atar menyenggol bahu Kafta, membuat gadis itu menghilangkan setiap kata-kata dibenaknya. “Eh nggak. Cuma ngerasa beruntung aja dapetin lo yang mau tanggung jawab. Kasihan cewek-cewek lain yang MBA, tapi cowoknya kabur gitu aja.”

            “Sekali lagi gue minta maaf karna udah menghancurkan setiap mimpi lo!”

            “Nggak ada yang perlu disesali. Mungkin ini udah takdir kita. Kita bisa perbaiki diri kan? Kita bisa ulang dari awal kan? Kita rajut mimpi kembali.” Kafta tersenyum bijak. Entah kenapa ia merasa sangat bijak mengatakan kata-kata barusan.

            Atar tersenyum. “Lo dewasa sekarang ya? Tentu kita akan rajut mimpi indah berdua!”

            “Kok berdua? Bertiga dong, sama yang ini!” Kafta mengelus perutnya yang mulai membuncit. Atar tersadar, lalu kemudian tersenyum dan mengangguk pasti. Ada tekad kuat dipancaran mata Atar. Tekad untuk membahagiakan orang yang amat disayang dan dicintainya. Tentu saja juga untuk memperbaiki semuanya.

 

Bully dan Kepercayaan Diri


Aku adalah gadis yang tumbuh sebagai korban bully. Sejak duduk dibangku taman kanak-kanak malah aku merasakannya dan baru kini aku sadari. Tapi dari semua momen hidupku, bully yang sangat-sangat berdampak bagi aku adalah disaat duduk dibangku SMP.

Sebenarnya, aku bukan type orang yang suka mengumbar hal-hal seperti ini. Aku lebih senang menyimpannya rapat. Seolah mengubur semua kejadian itu dalam-dalam. Dulu aku berpikir, jika hidup punya tombol delete, aku ingin sekali mendelete masa-masa itu beserta orang-orang yang terlibat didalamnya.

Tapi ini hidup. Hidup nggak pernah punya tombol delete sayangnya haha. Semakin bertambahnya umur, aku sudah mulai bisa berdamai dengan masa lalu. Tak lagi merasakan sakit yang amat seperti halnya dulu-dulu saat mengingatnya.

Bully yang aku terima saat TK, aku punya temen sebangku. Ia selalu menawarkanku untuk menulis catatanku dari apa yang guru sampaikan dipapan tulis. Bodohnya, aku tak pernah berani menolak. Guru tersebut nanya ke temen aku ini, kok nulisin dua buku.

Glow Up Butuh Uang?

Ngomongin perihal kecantikan apalagi body itu, asli nggak pernah ada habisnya. Siapa sih yang nggak pengen cantik, iya kan? Bullshit kalau ada cowok yang bilang menyayangi kamu apa adanya, tapi masih ngelirik cewek lain. Nggak bisa dipungkiri, cowok itu tertarik pertama kali ya dari tatapan.

Dari apa yang mereka lihat, bener nggak? Sejak 2019 kayanya aku tertarik dengan dunia kecantikan dan bercita-cita kepengen glow up. Kepengen waw gitu, tapi asli hingga April di 2021 ini menurut aku belum ke tahap yang aku inginkan.

Saat aku curhat perihal ini ke C dan ke sabahat aku si Liqod, mereka bilang udah lumaya kok. Udah cantik kok. Entah hanya untuk menenangkan hatiku saja atau bagaimana, i don’t know haha. Tapi jujur, masih banyak PR untuk diri aku sendiri yang masih berusaha aku coba hingga bisa jadi seperti apa yang aku inginkan.

Ternyata glow up itu nggak mudah ya. Nggak instan. Butuh bertahun-tahun dengan niat yang kuat dan konsisten. Nah, konsisten ini yang berat. Asli dah. Pengen olahraga pengen maskeran, tapi terkadang terkalahkan dengan rasa malas.

Emang susah banget kalau udah malas ini. Kalau ada yang jual obat malas, pengen deh rasanya ngebeli haha. Hal-hal yang selalu terngiang dikepalaku adalah kok bisa sih dia glow up banget? Kok bisa sih pubertas goal? 

5 Pelajaran Berharga dari Film Imperfect


Hallo April, lama tak menyapa dengan curhatan yang ngalor ngidul seperti dulu-dulu. Rasanya udah beda banget. Blog bukan lagi tempat untuk ‘pulang’ seperti dulu. Ada yang bisa disampaikan, ada yang harus di filter. Jujur aja, rindu banget bercerita banyak hal disini.

Rindu banget sampai hal-hal nggak penting pun diceritakan disini. Walau bagaimanapun, dari blog ini, aku dapat banyak hal. Teman, pengalaman, cuan pastinya. Dan lain sebagainya.

Apa kabar aku diusia 25 menuju 26 di 1 Juni nanti? Waw 26 ya! Bukan waktu yang sebentar. Sudah seperempat abad lebih. Dulu aku berpikiran, berada di usia segini, aku udah punya rumah punya mobil punya anak, tapi nyatanya semuanya nggak hehe.

Review Vaseline Lip Therapy Rosy Lips

Bagi cewek dikatain secara fisik itu begitu menyakitkan. Bikin insecure. Bikin nggak pede bikin minder dan bikin bikin lainnya. Bullshit banget kalau ada yang bilang dirinya dibully fisik, tapi biasa aja. Bullshit! Apalagi yang bully itu cowok, double double kill banget.

Beneran deh. Berasa kaya selama ini tuh udah berusaha buat nggak insecure. Udah berusaha untuk percaya diri. Memupuk semua kepercayaan diri itu dan dengan hanya satu hingga tiga kalimat dari orang lain, busss, semua rasa kepercayaan diri hilang.

Aku ngerasaian hal seperti itu. Dari dulu, aku selalu berusaha banget bilang ke diri sendiri kalau aku cantik. Aku udah belajar ngerawat diri. Cuma memang glow up aja. Mungkin perawatanku kurang atau faktor-faktor lain yang bikin belum bisa glow up maksimal.

Tentang Mimpi #17

 

17

“Semua akan indah pada waktunya. Be positive!”

            Sudah seminggu Nasya tak menemukan sosok Davi dikampus. SMS terakhir yang dikirim lelaki itu adalah saat ia berada didanau bersama Fian. Nasya merasa kehilangan? Pasti! Bagi Nasya, Davi cowok terbaik dalam hidupnya. Cowok perfect yang mengajarkan banyak hal terhadap dirinya.

            Kehidupan Nasya seminggu ini terkesan biasa saja, walau Nasya sudah mulai bisa survive dikelas. Gadis itu udah mulai bisa membuktikan siapa dirinya. Dari awal Nasya memang sudah berniat untuk memberikan yang terbaik dan membuktikan kepada orang-orang yang udah meremehkannya bahwa ia bukan ‘nothing’.

            Seminggu ini juga, Nasya tak menemui sosok Atar. Menghilangnya Davi dan Atar selama seminggu ini tentu menjadi tanda tanya besar dibenak Nasya. Gadis yang memakai bando pink itu menghela nafas pelan, lalu kembali berkutat dengan buku dan tugas kuliahnya.

*@muthiiihauraa*

            “Lo kenapa?” Fian memandang Davi yang tak berdaya diatas tempat tidur dengan tatapan nanar. Ada sebersit rasa bersalah dibenak Fian. Walau bagaimanapun bagi Fian, Davi adalah sepupunya. Davi adalah orang yang pernah sangat dekat dengan dirinya dan jauh dilubuk hati Fian yang paling dalam, Fian menyayangi Davi.

            Davi menatap Fian dengan nanar. Sesungging senyum tulus terpencar diwajah pucat Davi. Seminggu ini keadaan Davi semakin parah. Lelaki itu sama sekali tak bisa menelan makanan, bahkan bubur pun hanya beberapa sendok yang bisa masuk keperutnya. Pinggangnya sakit dan kaki kirinya mengalami pembengkakan.