[Review]: Bioskos Martha Tilaar Age Renew Anti Wrinkle Foam


Akhir-akhir ini, beberapa bagian dikulit wajahku tumbuh jerawat. Nggak banyak sih dan bisa dibilang kecil-kecil, hanya saja, bagi aku pribadi nggak nyaman. Dan aku rasa, jerawat-jerawat ini muncul bukan karna skincare-skincare yang aku pakai, tapi karna pola hidupku akhir-akhir ini.

Baca Juga: NGOMONGIN JERAWAT

Sadar banget kalau akhir-akhir ini hidup aku nggak teratur. Begadang, makan nggak benar, nggak olahraga, jarang maskeran, jarang scruban. Ya Allah, sebuah penurunan memang. Seharusnya nggak gitu kan huhu. seharusnya nggak boleh gitu. Tapi ya gimana, aku terlalu memperturutkan nafsu.

Mulai hari ini nggak lagi. Mulai hari ini akan konsisten lagi. Ayo ah Mut. Jangan Cuma ngomong huhu. Selain itu, rata-rata skincare aku udah mau habis. Mulai dari moisturizer hingga facial wash. Aku selalu suka kalau skincare udah mulai habis, itu tandanya, aku udah bisa belanja skincare yeey!

Pesan Ibu #3


Sudah semingguan ini handphone Doni tak henti-hentinya berdering. Hal ini tentu saja menjadi tanda tanya besar bagi Tina. Doni juga kelihatan lesu setiap mengangkat telepon. “Bang, kenapa?” tanya Tina saat keduanya tengah hendak tidur. Doni menggeleng sambil mencoba tersenyum. Tapi senyuman itu terlihat sangat terpaksa dimata Tina.

Baca Juga: PESAN IBU#2

Tina mendekati Doni, lalu tanpa sengaja tangan perempuan itu mengenai kening Doni. “Ya Allah bang, panasnya tinggi banget!” Sontak Tina langsung duduk. Rasa khawatirnya seketika muncul. “Nggak apa-apa dek. Paling besok juga sembuh.”
“Kita harus ke rumah sakit malam ini! Panas abang tinggi banget! Pantes bibir abang juga pucat.” Tina menarik tangan Doni agar segera bangun. Awalnya Doni menolak, tapi setelah dibujuk, akhirnya mereka pergi kerumah sakit.
***
“Pak Doni types bu. Harus dirawat inap untuk proses penyembuhan,” ujar Dokter Rega. Tina tertegun. Ini kali pertama dirinya harus mengurusi semuanya, mulai dari administrasi dan lain sebagainya. Biasanya sejak ia kecil, ibu dan ayahnya mengurusi semua untuk dirinya. Saat Tina bersuami, suaminya lah yang mengurusi segala hal terkait dirinya.
Kini Tina diharuskan mengambil keputusan, padahal ia sendiri ragu akan keputusan-keputusannya. “Gimana, bu? Bersedia rawat inap?”
“Eh. Oh oke baik dok,” 

Pesan Ibu #2


“Ayo dek berangkat,” ujar Doni saat dirinya telah bersiap-siap. Tina mendengus sambil menatap tajam ke arah Doni lewat pantulan cermin. “Adek masih make up abang. Sabar,” kata Tina. “Oke abang, tunggu di motor.”

            “HANDUKNYA DIGANTUNG JANGAN DILETAKIN GITU AJA DI ATAS TEMPAT TIDUR,” teriak Tina setengah frustasi. Pasalnya hal-hal sepele kaya gini selalu membuatnya emosi pada Doni. Doni buru-buru mengambil handuknya, lalu kemudian menghembuskan nafas. “Ya bilangnya nggak usah ngegas gitu lah dek.”

            “Habis selalu gitu. Mungkin udah sejuta kali adek ngingetin, tapi nggak juga dilaksanakan,” ketus Tina. Doni tak mau memulai perdebatan. Lelaki itu hanya menghembuskan nafas, lalu kemudian keluar dari kamar.
***
            Doni menyantap makananya dengan lahap. Gulai Patin ini memang selalu jadi favoritnya. “Dek, tau nggak, mak dulu sering banget masakin ini. Tapi satu potong ikan patin kudu dibagi-bagi buat kakak, buat mak, dan bapak. Mana bisa dulu makan satu potong gini sendiri.” Doni bercerita.

Baca Juga: PESAN IBU #1
            “Hmmm, abang dulu udah pernah cerita soal itu. Nggak musti diulang dua kali kan?” tanya Tina. Doni terkekeh saat menyadari memang bahwa ia pernah menceritakan perihal itu. “Abang, kapan kita kredit mobil? Masa naik motor terus.”

Aku dan LPM Gagasan

Assalamua'laikum teman-teman. Bagaimana kabarnya dan sedang apa nih? Hari ini aku mau post tulisan ini aja. Baru nulis ini kemaren malam untuk buku antologi Gagasan, tapi ga tau kapan updatenya nih.

Baca Juga: ARTI GAGASAN BAGIKU


Aku dan LPM Gagasan

            Kamu hari ini terbentuk dari bagaimana kamu yang dulu. Kamu yang sekarang terbentuk dari banyaknya proses, luka, air mata, dan tawa dimasa lalu. Kamu tak akan pernah bisa mengulang takdir. Kamu tak akan pernah bisa meminta terlahir seperti apa dan dari orang tua mana.
Kamu tak akan pernah bisa mendelete masa lalu semenyakitkan apapun masa lalu itu. Tapi, kamu bisa merancang ingin menjadi seperti apa kamu dimasa sekarang. Tentu saja akan banyak proses untuk menjadi seperti apa yang kamu inginkan, tapi bukan berarti tak bisa, iya kan?

Namaku Muthi Haura. April 2018 lalu, aku resmi melepaskan diri sebagai mahasiswi Strata Satu di UIN Suska Riau. Saat awal kuliah, teman-teman SMA-ku banyak yang bertanya, kenapa memilih UIN Suska Riau? For your information, aku lulusan SMA yang katanya cukup favorit di Riau, MAN 2 Model Pekanbaru. Dan teman-teman SMA-ku bermimpi untuk melanjutkan studynya keluar pulau, bahkan keluar negeri.

Aku? Karna satu dan lain hal, aku tetap stay di Pekanbaru. Memilih UIN Suska sebagai tempat aku berproses mencari jati diri. Bagiku, bukan kampusnya yang akan membuat seseorang itu sukses, tapi diri orang itu sendiri. Fasilitas kampus itu hanya penunjang, diri sendiri yang sepenuhnya menentukan akan bagaimana dan seperti apa kedepannya. 

Gagasan
Photo ga nyambung dengan caption

Menjadi seorang mahasiswi kala itu tidak lantas membuatku semakin dewasa. Aku masih si penakut. Aku masih si pemalu. Aku masih si pendiam. Parahnya, aku mengambil jurusan komunikasi. Aku seperti menantang diri untuk keluar dari zona nyamanku. Aku katakan pada diriku kala itu, aku harus berubah jadi lebih baik. Aku harus bisa punya banyak pengalaman yang membuat diri aku terus berkembang. Aku nggak boleh berhenti berproses. 

Saat kuliah juga, aku mengikuti beberapa organisasi, salah satunya LPM Gagasan. Ya, Lembaga Pers Mahasiswa Gagasan. Waw bukan? Aku masuk Gagasan di semester dua kuliah, padahal saat itu, Gagasan sudah nggak open recruitmen lagi. Sungguh pengurus-pengurus ditahun itu sangat berbaik hati. Kala itu, Pimpinan Umumnya Bang Gilang dan Pimpinan Redaksinya Kak Wilna. 

[Review]: eBright Skin Essential C-Bright Serum


Assalamua’laikum. Halo teman-teman. Malam ini, aku baru saja menonton video di channel youtube Prilly Latuconsina. Aku bukan fansnya sih, Cuma akhir-akhir ini, aku sering nontonin videonya. Menurut aku, dia seorang peremuan yang pekerja keras. Independent women dan dia punya prinsip.

Selain itu, tentu saja aku selalu salfok ngelihat perempuan-perempuan berkulit bening. Bukannya lesbi, Cuma suka aja sambil nanya ke diri sendiri, itu skincarenya mahal apa ya? Perawatannya mahal kali ya? Pasti nggak pernah skip skincare tuh kan? Pasti makannya terjaga?

Sambil ngebatin ke diri sendiri, one day, aku akan seperti dia. Bisa punya bisnis yang sukses, bisa beli apa yang dimau tanpa perlu mikirin harga, bisa ngebiayain adik-adik tanpa pusing mikirin pengeluaran, bisa bahagiain orang-orang yang aku sayang, dan pastinya bisa memiliki kulit semulus dia.

Trus juga ngebatin, mulai dari sekarang, kerjanya jangan malasan, Mut! Jangan nunda-nunda waktu. Mumpung masih muda, gas! Jangan malasan juga skincare rutinnya. Ya elah Mut, kamu bermimpi punya kulit seglowing dia tapi skincaran aja masih malas-malasan, kamu sehat Mut?

Sebenarnya sih, sejak dua tahun kebelakang, aku bukan type orang yang skip skincare. Udah ngertilah gitu istilahnya kalau skincare itu wajib, apalagi basic skincare. Cuma kadang kalau lagi tiba malasnya atau kalau lagi ngantuk-ngantuknya, aku ngaplikasikannya itu abal-abal gitu. Misal kaya, belum kering tonernya, eh udah ditimpa dengan serum/essence. Padahal kan nggak boleh gitu. Harus tunggu meresap dulu baru ditimpa.

Pesan Ibu #1

Halo Assalamua'laikum teman-teman semua. Kali ini, aku pengen sharing naskah cerita yang aku bikin beberapa bulan lalu. Sebenarnya naskah ini diwacanakan bakal dibikin film, tapi melihat waktu dan kondisi plus lain sebagainya, sepertinya nggak jadi. Ya udah, ketimbang mendem doang di laptop, aku posting disini dulu ya.


Judul : Pesan Ibu (?)


Hidup tak mengenal kata tunggu seberapa inginpun kamu memintanya untuk menunggu. Hidup tak kan berhenti seberapa kuatpun kamu berteriak agar ia berhenti. Hidup akan terus bergulir hingga pasir waktumu habis

            Bus transmetro Pekanbaru berjalan dengan kecepatan sedang. Tina menyenderkan kepalanya di jendela bus sembari beberapa kali menghembuskan nafas. Pertengkarannya dengan Doni suaminya beberapa jam yang lalu membuatnya memilih kabur dari rumah untuk sementara waktu tanpa tujuan. Yang ada dipikiran Tina hanya, ia  tidak ingin melihat Doni. Itu saja. 

Realistis


Ada banyak impian yang kudu diraih. Ada banyak cita-cita yang harus ditunaikan. Tapi terkadang dalam menggapai cita-cita itu, kamu dihadapkan banyak rintangan. Entah itu dari lingkungan atau rintangan dari dirimu sendiri.

Orang-orang nggak akan pernah tau proses apa yang kamu alami. Percayalah, jika kamu belum menjadi ‘sesuatu’ atau ‘seseorang’. Nggak akan ada yang percaya sama kamu. Nggak akan ada yang peduli padamu. Semua orang cepat atau lambat akan meninggalkanmu. Beda halnya jika kamu sudah ‘wah’ dimata orang-orang.

Orang yang awalnya nggak kenalpun bisa ngaku-ngaku menjadi keluargamu. Aku tak sedang membual, tapi inilah keadaan sebenarnya. Makanya, aku sedang berusaha menggapai mimpiku. Menggapai cita-citaku. Agar bisa sukses sesuai standarku. Agar nggak dipandang sebelah mata oleh orang lain.