5 Pelajaran Berharga dari Film Imperfect


Hallo April, lama tak menyapa dengan curhatan yang ngalor ngidul seperti dulu-dulu. Rasanya udah beda banget. Blog bukan lagi tempat untuk ‘pulang’ seperti dulu. Ada yang bisa disampaikan, ada yang harus di filter. Jujur aja, rindu banget bercerita banyak hal disini.

Rindu banget sampai hal-hal nggak penting pun diceritakan disini. Walau bagaimanapun, dari blog ini, aku dapat banyak hal. Teman, pengalaman, cuan pastinya. Dan lain sebagainya.

Apa kabar aku diusia 25 menuju 26 di 1 Juni nanti? Waw 26 ya! Bukan waktu yang sebentar. Sudah seperempat abad lebih. Dulu aku berpikiran, berada di usia segini, aku udah punya rumah punya mobil punya anak, tapi nyatanya semuanya nggak hehe.

Review Vaseline Lip Therapy Rosy Lips

Bagi cewek dikatain secara fisik itu begitu menyakitkan. Bikin insecure. Bikin nggak pede bikin minder dan bikin bikin lainnya. Bullshit banget kalau ada yang bilang dirinya dibully fisik, tapi biasa aja. Bullshit! Apalagi yang bully itu cowok, double double kill banget.

Beneran deh. Berasa kaya selama ini tuh udah berusaha buat nggak insecure. Udah berusaha untuk percaya diri. Memupuk semua kepercayaan diri itu dan dengan hanya satu hingga tiga kalimat dari orang lain, busss, semua rasa kepercayaan diri hilang.

Aku ngerasaian hal seperti itu. Dari dulu, aku selalu berusaha banget bilang ke diri sendiri kalau aku cantik. Aku udah belajar ngerawat diri. Cuma memang glow up aja. Mungkin perawatanku kurang atau faktor-faktor lain yang bikin belum bisa glow up maksimal.

Tentang Mimpi #17

 

17

“Semua akan indah pada waktunya. Be positive!”

            Sudah seminggu Nasya tak menemukan sosok Davi dikampus. SMS terakhir yang dikirim lelaki itu adalah saat ia berada didanau bersama Fian. Nasya merasa kehilangan? Pasti! Bagi Nasya, Davi cowok terbaik dalam hidupnya. Cowok perfect yang mengajarkan banyak hal terhadap dirinya.

            Kehidupan Nasya seminggu ini terkesan biasa saja, walau Nasya sudah mulai bisa survive dikelas. Gadis itu udah mulai bisa membuktikan siapa dirinya. Dari awal Nasya memang sudah berniat untuk memberikan yang terbaik dan membuktikan kepada orang-orang yang udah meremehkannya bahwa ia bukan ‘nothing’.

            Seminggu ini juga, Nasya tak menemui sosok Atar. Menghilangnya Davi dan Atar selama seminggu ini tentu menjadi tanda tanya besar dibenak Nasya. Gadis yang memakai bando pink itu menghela nafas pelan, lalu kembali berkutat dengan buku dan tugas kuliahnya.

*@muthiiihauraa*

            “Lo kenapa?” Fian memandang Davi yang tak berdaya diatas tempat tidur dengan tatapan nanar. Ada sebersit rasa bersalah dibenak Fian. Walau bagaimanapun bagi Fian, Davi adalah sepupunya. Davi adalah orang yang pernah sangat dekat dengan dirinya dan jauh dilubuk hati Fian yang paling dalam, Fian menyayangi Davi.

            Davi menatap Fian dengan nanar. Sesungging senyum tulus terpencar diwajah pucat Davi. Seminggu ini keadaan Davi semakin parah. Lelaki itu sama sekali tak bisa menelan makanan, bahkan bubur pun hanya beberapa sendok yang bisa masuk keperutnya. Pinggangnya sakit dan kaki kirinya mengalami pembengkakan.

Tentang Mimpi #16

 

16

            Nasya berdiri mematung didepan ruangan dosen. Kepala gadis itu melongok kekanan dan kekiri. Berharap orang yang dicarinya dapat ia temui. Nasya menghela nafas saat ujung matanya sama sekali tak menangkap sosok itu. Davi. Ya, lelaki itulah yang tengah ditunggunya.

            Gadis itu menghembuskan nafas kecewa. Kotak bekal nasi goreng yang ditentengnya ia masukkan kedalam tas, lalu dengan langkah gontai gadis itu berjalan menuju perpustakaan. Sebuah tangan menarik lengan Nasya dari belakang, membuat langkah gadis itu terhenti.

            “Awh.” Nasya meringis pelan, lalu kemudian membalikkan tubuhnya. “Eng. Eh. Kenapa kak?” tanya Nasya dengan raut wajah sedikit ketakutan. “Kak-kak! Emang gue kakak lo. Davi mana?” Siska melipat tanganya didepan dada, menunjukkan aura seorang senioritas yang seakan berkuasa.

            “Nggak tau.”

            Siska meringis sembari tersenyum sinis mendengar jawaban yang keluar dari mulut Nasya. Ditariknya rambut Nasya sehingga membuat Nasya meringis pelan. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang melihat kejadian itu pura-pura tak ambil pusing. Mereka tau siapa Siska dan repotasi gadis itu sebagai cewek terkejam sefakultas.

            “Gue bilangin sama lo ya, Davi itu punya gue. Lo tau kan harus ngapain? Jauhin Davi, ngerti?” Siska menekan disetiap kalimatnya. Seolah sama sekali tak menghiraukan raut kesakitan dari wajah Nasya. “Ngerti nggak?” Bentak Siska.

            Nasya mengangguk pasrah. Siska melepaskan jambakannya dan berlalu tanpa sedikitpun merasa sungkan ataupun bersalah. Nasya meringis pelan, lalu kemudian gadis itu merebahkan tubuhnya pada sebuah kursi yang memang selalu diletakkan didepan setiap kelas. Beberapa orang yang melihat kejadian itu menatapnya dengan tatapan iba dan Nasya sangat membenci tatapan itu.

            Bayangan wajah Davi muncul dibenaknya. Apa aku harus melepaskan sesuatu yang bahkan belum aku dapatkan? Apakah aku harus merelakan kebahagiaan aku demi orang lain yang bahkan nggak pernah sedikitpun menghargai aku?

            Nggak! Nggak akan! Davi pernah bilang kalau aku harus memperjuangkan apa yang aku inginkan, jadi nggak salah kan kalau aku memperjuangkan cinta aku? Memperjuangkan dia?

*@muthiiihauraa*

            Atar membanting botol coca-colanya ke tong sampah dan tentu saja lemparan itu meleset. Lelaki itu sama sekali tak memiliki semangat, bahkan gairah untuk membully Nasya dikelas tadi pun nggak ada.

            Pikiran Atar tertuju pada satu gadis. Satu gadis yang amat dicintainya nan jauh diujung sana. Kafta. Nama itu terngiang dimemori otak Atar. Sudah beberapa kali Atar mencoba menghubungi nomor hp Kafta, tapi selalu tak ada jawaban.

            Maafin gue Kitty, tapi please jangan cuekin gue kaya gini. Ini terasa begitu menyakitkan buat gue! Gue bakal tanggung jawab. Maaf udah buat lo berada dalam posisi tersulit seperti ini.

            Atar menghembuskan nafas pelan, lalu meraih tas ranselnya dan berjalan menuju parkiran. Tanpa sengaja lelaki itu menabrak seorang gadis hingga membuat gadis itu terjatuh dilantai.

            “Lo jalan pakai mata kenapa? Udah kakinya cacat, apa mata lo juga ikut cacat?” Atar membentak gadis itu, padahal sebenarnya ia yang bersalah. Gadis itu hanya bisa terpaku ditempatnya. Kalau saat ini ada kamu Dav, pasti kamu udah bantuin aku. Batin gadis itu.

            Karna tak mendapatkan respon dari Nasya, Atar menarik lengan gadis itu sehingga membuat Nasya mau tak mau berdiri. “Apa sih Atar? Sakit!” keluh Nasya. Atar tampak tak peduli. Ditariknya Nasya agar mengikutinya kearah parkiran.

            Nasya mencoba melepaskan tangannya, tapi sia-sia saja melihat tenaga Atar yang jauh berkali-kali lipat dari tenaganya. Atar baru melepaskan tangan Nasya saat mereka udah berada diparkiran. Lelaki itu menatap Nasya kesal.

            “Lo itu matanya ditaroh mana sih? Lo nggak liat tadi gue lagi jalan ha? Nggak liat?” tanya Atar dengan nada membentak-bentak. Nasya menunduk. Sedih-sakit-perih, itu yang Nasya rasakan. Tadi dia udah diomelin senior, sekarang ditambah diomelin Atar.

            “Kenapa diam? Udah kaki lo yang nggak berfungsi, trus tadi mata lo, sekarang telinga lo gitu? Iya ha?”

            “Udah marah-marahnya? Puas? Banci lo beraninya sama cewek!” Sebuah suara menghentikan amarah Atar. Lelaki itu berbalik dan menatap sang sumber suara. “Kenapa berhenti? Udah selesai marah-marahnya? Puas udah ngelampiasin semua amarah lo ke Nasya?”

            Atar terdiam. Sama sekali tak tau harus berkata apa. “Sekali lagi gue lihat lo nyakitin Nasya, gue habisin lo! Ngerti?” Lelaki itu mendorong tubuh Atar, lalu kemudian meraih pergelangan tangan Nasya dan membawa gadis itu berlalu dari hadapan Atar.

*@muthiiihauraa*

            Puja mondar-mandir didepan kamar Davi. Sesekali tangan wanita itu mengetuk pintu kamar, tapi sama sekali tak ada respon dari dalam. “Dav! Buka pintunya. Kamu kenapa?” Puja mengulang pertanyaannya yang entah untuk keberapa kalinya.

            Memang dari tadi pagi, Davi tak keluar kamar. Bahkan untuk sarapan pun tidak. Tentu saja hal itu membuat sang nenek khawatir. “Dav!” Puja kembali mengedor pintu kamar Davi.

             “Aku nggak papa nek. Cuma lagi butuh istirahat sebentar aja.” Dari dalam kamar terdengar suara Davi disertai batuknya. Jujur saja, makanan yang ditelan Davi sejak semalam tidak pernah bisa masuk keperutnya. Ada rasa menganjal dihatinya saat makanan-makanan itu lewat.

            Bayangan wajah Nasya tiba-tiba muncul dibenak Davi. Entah kenapa ada kecemasan dihatinya terhadap Nasya dan sejak mengenal gadis itu, Davi merasa hidupnya jauh lebih berwarna. Davi menghela nafas, lalu meraih hpnya.  Mengetikkan sebuah sms untuk gadis itu dan kembali merebahkan dirinya kealam mimpi. Mencoba meleburkan semua rasa sakit yang ada.

            Puja diluar kamar menghela nafas sembari menatap pintu kamar Davi yang tak kunjung terbuka. Terlalu banyak rahasia dan wanita itu mulai lelah untuk mengungkapnya.

*@muthiiihauraa*

            Fian mengulurkan sebuah es cream dihadapan Nasya dan langsung diraih oleh Nasya. Tatapan gadis itu tertuju pada danau dihadapannya. Fian duduk disamping Nasya, lalu kemudian menatap gadis itu. “Kenapa tadi nggak ngelawan? Begok banget!” keluh Fian.

            Nasya menatap Fian sekilas, lalu kembali tertuju pada danau. “Lo itu harus bisa ngelawan! Jangan jadi cewek cengeng plus begok kaya gini terus dong. Mau sampai kapan ditindas? Betah banget kayanya!”

            Nasya pura-pura tak mendengarkan semua ucapan Fian. Dibiarkannya Fian berkoar sesuka hatinya. Hape gadis itu berdering menandakan sebuah SMS masuk, Nasya meraih hapenya. Menatap sms yang tertera dilayar itu dengan tertegun.

 

From : Davi

Hay, gimana kabarnya hari ini? Harus jadi cewek kuat ya! Strong grils. Kejar semua mimpinya!

 

            Ada setitik manik yang turun dari pelupuk mata Nasya. “Lo denger gue nggak?” Fian menatap Nasya dan menemukan gadis itu dengan mata sedikit berbinar saat menatap hapenya. Rasa penasaran Fian tumbuh. Tanpa permisi, lelaki itu merebut handphone dari tangan Nasya.

            “Eh kamu apa-apaan sih Fi?” Nasya mencoba meraih hape dari tangan Fian, tapi tentu saja itu sia-sia. Fian menatap sms yang tertera dihape Nasya. Entah kenapa sejak kejadian kecelakaan Kafta, Fian sama sekali tak berniat lagi balas dendam pada Davi, walau mungkin rasa sakit itu masih ada.

            Fian menatap SMS itu sekali lagi, lalu kemudian mengembalikan hape itu ketangan Nasya. “Yuk balik, udah sore.” Ajak Fian.

Tentang Mimpi #15

 

15

“Kamu tau namaku, tapi tidak dengan cerita hidupku.”

 

            Rico dan Tari duduk disamping tempat tidur Kafta sembari menatap Kafta yang tengah tertidur. Wajah gadis itu tampak pucat dan kelelahan, tidak seperti Kafta yang mereka kenal yang selalu memancarkan aura kebahagiaan.

            Tari menghela nafas pelan. mengelus-elus lembut pergelangan tangan sang anak sembari merasa menjadi seorang ibu yang tak becus. Tari sama sekali tak menyangka bahwa gadis kecilnya yang dulu selalu merengek-rengek meminta boneka, kini telah dewasa. Bahkan tengah hamil pula.

            “Pa.” Tari membuka pembicaraan. Rico menoleh sekilas pada Tari.

“Mama jadi kepikiran semua kata-kata Fian kemaren. Apa kita memang bukan orang tua yang baik bagi mereka pa? Apa kita udah terlalu mengacuhkan mereka hingga kini kita tak lagi mengenal kedua buah hati kita?” tanya Tari. 

Tentang Mimpi #14

 

14

“Jadikan orang yang menyayangimu sebagai motivasi untuk maju.”

 

            Fian mematung didepan sebuah kamar rumah sakit. Mata lelaki itu tertuju pada seorang gadis yang terbujur diatas ranjang putih. Raut wajah gadis itu mengambarkan keletihan dan kesakitan. Hati Fian seperti keiris melihatnya.

            Lelaki itu menghela nafas pelan, lalu matanya melirik kearah sang mama. “Kok bisa gini sih Ma?” tanya Fian seolah menyalahkan. Tari menatap anak lelakinya itu sembari berdehem pelan. wajah perempuan itu tak bersinar seperti biasanya.

            “Kafta kecelakaan tunggal Fi. Papa bener-bener nggak tau apa yang ada dipikiran dia saat itu sampai harus nabrak trotoar.” Rico mencoba menjelaskan. “Kenapa papa dan mama nggak bisa jagain Kafta sih?” Lagi-lagi nada bicara Fian seolah menyalahkan. Menyalahkan bahwa semua yang terjadi pada Kafta adalah kesalahan orang tuanya.

*@muthiiihauraa*

            Nasya duduk terpaku dikursi depan ruang perpustakaan. Pikiran gadis itu melayang entah kemana-mana. Sebilah hatinya lagi-lagi terluka untuk yang entah keberapa kalinya. Nasya mengusap ujung matanya yang udah membentuk gumpalan air mata.

            Kenapa aku nggak bisa kuat sih? Kenapa aku harus cengeng? Nasya membatin. Gadis dengan tinggi 154 cm itu meraih sebuah amplop dari tasnya. Membuka amplop itu dan menatap rentetan kalimatnya dengan sedih.

            Ya, lagi-lagi surat penolakan dari sebuah penerbit. Penolakan yang entah untuk keberapa kalinya. Nasya menghembuskan nafas. Semua perasaan sedih itu berkecamuk dihatinya. “Apa aku emang nggak pantas untuk sukses?”

Tentang Mimpi #13

 

13

 “Lo cari perhatian dosen ya? Sok banget sih lo. Pakai nanya-nanya segala. Udah ngerasa sok hebat lo sekarang?” Atar menyerocos panjang lebar khas cewek disamping Nasya saat pertukaran mata kuliah yang kebetulan ruangannya tetap sama.

Nasya memandang Atar sekilas. Seakan tak ambil pusing gadis itu kembali menyalin catatannya kebuku khusus agar lebih rapi. Atar yang merasa lagi-lagi gagal memancing kemarahan Nasya mulai berani mencolek bahu gadis itu.

“Ternyata lo selain pincang juga budek ya!” kata Atar dengan volume suara yang ia sengajain sebesar mungkin. Seisi kelas yang awalnya ramai penuh celotehan mendadak diam. Semua mata menatap Atar dan Nasya seakan menantikan kelanjutan kisah antara Atar dan Nasya.

Sabar Sya. Sabar! Nasya menghela nafas dan masih terpaku dengan salinan catatannya. Dianggapnya Atar seakan tak ada. “Udah pincang nggak usah belagu deh! Lo itu pas SMP bodoh tau nggak?” Atar kembali menambah-nambahkan.

Nasya benar-benar sudah kehilangan fokusnya. Tak berminat sama sekali untuk melanjutkan menyalin tulisan. Telinga gadis itu terfokus dengan semua ucapan Atar barusan. Kalau lo cengeng kaya gini, orang yang nyakitin lo itu bakal senang dodol. Jangan nunjukin kalau lo itu lemah kaya gini!Kata-kata Fian kemaren entah kenapa muncul dibenak Nasya.

Kalau lo dikritik atau dihina atau dipandang remeh oleh orang. Buat cetak biru dikening lo dan lo harus tunjukin bahwa lo jauh lebih hebat dari mereka! Ucapan Davi pun muncul dibenak Nasya.

Aku kuat. Aku harus kuat. Buktikan Sya! Buktikan! Nasya membatin. Atar menatap Nasya yang reaksinya tidak seperti dugaan Atar. Lelaki itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Dasar! Udah pincang, budek, caper lagi! Lo itu ‘nothing’ tau nggak? Orang kaya lo itu nggak akan bisa jadi ‘something’. Jangan terlalu banyak bermimpi.”