Tentang Mimpi #19

06.21 muthihaura 1 Comments

 

19

            Nasya mematut dirinya didepan cermin. Sesaat gadis itu tertegun saat dilihatnya pantulan dirinya dicermin. Manis dan anggun. Jilbab biru muda pemberian Davi menjuntai indah, begitu juga dengan dress panjangnya.

            Hari ini memang Nasya ingin melihat keaadan Davi, tentu saja dengan hadiah pakain pemberian Davi. Nasya berharap semoga dengan ia memakai pakain hadiah dari Davi, lelaki itu jadi semakin semangat untuk sembuh.

            Nasya merapikan jilbab birunya, lalu kemudian melangkah keluar kamar. “Waw, kak Sya cantik banget!” Teriak polos Al yang memandanginya dengan mobilan ditangan. Nasya tersenyum, lalu menghampiri Al.

            “Cantik ya? Makasih sayang!” Nasya membelai lembut rambut bocah kecil itu.

            “Subhanallah. Cantik Sya, anggun lagi.” Andi yang baru keluar dari kamarnya menatap anak gadisnya itu dengan takjub. “Kamu lebih bagus dan anggun kaya gini.” Ujar Andi lagi.

 

            “Ah ayah bisa aja deh. Makasi Yah! Nasya pergi dulu.” Nasya mencium punggung tangan sang ayah, lalu kemudian berlalu. Andi menatap Nasya tanpa berkedip. Merasakan kekaguman terhadap putri pertamanya itu. Semoga kamu terus berkomitmen dalam menggunakan hijab Sya! Harap Andi didalam hati.

*@muthiiihauraa*

            Tubuh itu terbaring lemas, tapi sudut bibir lelaki itu seakan tersenyum melihat kehadiran Nasya diambang pintu dengan tampilan barunya. Lelaki itu berusaha memberi kode agar Nasya masuk.

            “Oh kamu yang namanya Nasya? Ayo sini masuk.” Puja melangkah mendekati Nasya dengan senyum ramahnya. Nasya masuk dengan ragu-ragu sambil menatap keseisi kamar. Suasana kamar itu sepi, tak ada siapa-siapa kecuali Davi dan neneknya.

            “Orang tua Fian tadi barusan pulang dari sini.” Puja menjelaskan tanpa diminta. Mungkin mengerti keheranan Nasya. Nasya tersenyum tulus saat mendengar ucapan Puja, lalu tatapannya beralih kearah Davi.

            Davi terbaring tanpa daya dan lemas, bahkan untuk mengangkat tanganpun ia tak sanggup. Kakinya membengkak. Badannya mulai menguning dan sorot matanya yang biasanya cerah kini meredup.

            Nasya menatap dengan tatapan miris dan hati sedih. Air mata berdesak-desakan ingin keluar dari pelupuk matanya melihat kondisi Davi, tapi Nasya menahannya. Ia tak ingin menangis didepan Davi.

“Gimana kondisi Davi nek?” ujar Nasya sedikit serak. Puja menghela nafas. Mata wanita tua itu juga berkaca-kaca seakan tak sanggup untuk menjelaskan. Nasya mengerti, lalu kemudian tersenyum pelan.

“Sya. Titip Davi sebentar, nenek mau ke musholla.” Puja meraih tasnya, lalu berlalu meninggalkan kamar inap Davi tanpa sedikitpun menatap kearah Davi. Davi masih tersadar, ia tersenyum lemah menatap Nasya. Suaranya tak mampu ia keluarkan, kalaupun ia berbicara terdengar tak jelas.

Nasya duduk disamping tempat tidur Davi. Menatap laki-laki itu dalam-dalam. Nasya baru menyadari bahwa mata lelaki yang disayangnya itu pun sudah mulai menguning. Sekuat mungkin gadis itu berusaha untuk menahan isak tangisnya.

“Makasih hadiahnya. Aku suka. Sekarang aku pakai ni, gimana? Cantik gak?” Nasya seolah berkata sendiri karna Davi sama sekali tak merespon. “Kamu dengar aku kan? Kamu janji harus sembuh ya, kamu mau liat aku sukses kan?”

Lelaki itu juga sama sekali tak merespon. Kamu ngerti nggak sih apa yang aku katakan Dav? Please bertahan! Kamu kuat! Setitik tetesan bening menetes keatas tempat tidur Davi. Nasya buru-buru mengusapnya dan kembali berusaha menata hatinya.

“Kamu tau nggak, dikampus nggak ada kamu itu sepi! Nggak ada lagi orang yang sok-sok ngeceramahin aku tentang hidup, padahal hidup dia juga penuh topengnya.” Nasya tertawa sumbang mendengar perkataannya sendiri.

“Kamu ingat nggak awal perkenalan kita? Kamu ingat nggak awal perjumpaan kita? Lucu ya? Kamu cowok terbaik tau dalam hidup aku! Kamu ngajarin aku banyak hal. Kamu juga harus tau satu hal, bahwa perjumpaan kita menciptakan benih-benih cinta dihatiku.”

Nasya tersenyum. Tayangan slide demi slide awal perjumpaannya dengan Davi terekam jelas dimemori hatinya. Tanpa sadar ternyata kamu sudah berhasil mencuri hati aku.

 

Tak pernah terlintas dibenakku

Saat pertama kita bertemu

Sesuatu yang indah tumbuh dalam gundah

Harum dan merekah

 

Tulus hatimu buka mataku

Tegar jiwamu hapus raguku

Membuncah dihati harapan dan suci

Menyatukan cinta

 

Bunga-bunga cinta indah bersemi

Diantara harap pinta pada-Nya

Tuhan tautkanlah cinta di hati

Berpadu indah dalam mihrab cinta

(Bunga-bunga cinta. Dude feat Asmirandah)

Tatapan sendu Nasya menghujam kearah Davi. “Kenapa nggak pernah bilang kalau kamu itu sakit Dav? Kenapa selalu sok-sok kuat sih? Kenapa Dav? Kenapa?” Nasya luruh. Tangisnya meledak. Ia benar-benar tak bisa untuk berpura-pura kuat. Memang pada nyatanya ia adalah gadis yang cengeng.

“Kenapa?” Nasya mengulang pertanyaannya. Setengah merengek seperti anak kecil.

Please jangan kaya gitu didepan gue Sya! Jangan tunjuin tangisan lo didepan gue, karna gue nggak bisa lagi buat ngapus tangisan itu. Karna gue nggak bisa lagi buat lo tertawa setelah tangisan itu. Davi menatap Nasya dengan sendu sembari menahan rasa sakit.

Buru-buru Nasya menghapus air matanya, lalu kemudian tertawa. Tawa yang dipaksakan. “Ah aku kuat. Aku nggak nangis nih. Cuma kelilipan aja.” Tawa terpaksa Nasya masih berderai, walau begitu air matanya tetap juga mengalir.

“Sya, jangan kaya gitu.” Fian berdiri dibelakang kursi Nasya entah sejak kapan. Tatapannya menyiratkan kesedihan. “Lo nggak boleh kaya gini.” Fian mengulangi kata-katanya.

Nasya menatap Fian dengan tajam. “Kamu nggak ngerti apa yang aku rasain Fi! Kamu nggak ngerti!” Nasya menghela nafas sembari menatap tajam mata lelaki itu. Fian tak bergeming.

“Kalau kamu kaya gitu, Davi bakal sedih. Davi bakal tambah sakit, kamu mau? Davi selalu kuat ngadepin penyakitnya. Dia pasti nggak senang ngelihat kamu kaya gini!” Fian menekankan pada setiap kalimatnya. Berharap gadis berjilbab dihadapannya dapat mengerti.

Nasya menatap Davi yang tengah terbaring. Mata lemah lelaki itu mencerminkan kesakitan yang ia rasakan. Nasya menelan ludah. Ini bukan Davi yang aku kenal dulu. Berkali-kali Nasya mencoba menahan isak tangisnya, ia membenarkan kata-kata Fian barusan.

“Davi pasti pengen lo kuat. Davi pasti pengen yang terbaik buat lo!”

Nasya mengangguk mengerti. “Ya, aku tau. Aku mau ke mushalla dulu nyusul nenek. titip Davi ya.” Nasya berlalu. Hati gadis itu berkecamuk. Setiap lantunan do’a ia ucapkan agar hatinya bisa sedikit saja merasa tenang dan ada keajaiban untuk kesembuhan Davi.  

*@muthiiihauraa*

Davi Davi Davi. Nama itu selalu membayangi memori pikiran Nasya. Keadaan Davi yang sangat mengkhawatirkan menambah kecemasan dihati Nasya. Gadis itu merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur, wajah Davi muncul dibenaknya.

Kamu harus kuat Dav! Harus! Jangan kaya gini karna aku takut jadinya. Nasya menghembuskan nafasnya, lalu gadis itu bangun dari tidurnya dan beranjak menuju laptop diatas meja belajarnya.

Nasya membuka lembaran microsoft word, menatap lembaran itu dengan tatapan nanar. Hati gadis itu meringis. Dengan lincah jari jemarinya bermain diatas laptop.

 

Dear Davi! Aku tau bahwa awal perjumpaan kita adalah sebuah cerita indah yang udah Allah gariskan didalam hidup kita. Mengenalmu adalah sesuatu hal yang sangat menyenangkan dalam hidupku. Kamu orang pertama yang mengajarkan aku banyak hal. Kamu cowok pertama yang mau dekat denganku. Kamu menutup mata atas kekurangan dan ketidaksempurnaanku.

Kamu juga adalah orang pertama mengajarkan aku untuk berjuang mengejar mimpi. mengajarkan banyak hal dan menyuruhku untuk optimis dalam hidup. Kamu juga pernah bilang bahwa hidup itu seperti sekolah. Masalah itu seperti ujian dan apabila aku bisa melewati ujian itu, maka aku akan naik kelas.

Dav, terlalu banyak yang udah kamu ajarkan ke aku. Trimakasih. Aku berharap kamu cepat sembuh. Aku berharap Allah memberikan keajaiban pada orang sebaik kamu. Dulu aku berfikir bahwa kamu adalah makhluk paling sempurna yang aku kenal, tapi ternyata dibalik kesempurnaan fisik kamu, kamu menyimpan sebuah penyakit. Memang didunia ini nggak ada manusia yang sempurna. Nobody’s perfect kan? sesempurnanya seseorang tetap pasti akan ada kelemahannya.

Aku akan sukses Dav. Aku akan buktikan keorang-orang yang udah nyakitin aku kalau aku itu bukan ‘nobody’, aku somebody! Kamu harus bertahan untuk ngelihat kesuksesanku, oke?

Salam, Nasya Talitha Azalia.

 

            Nasya menghembuskan nafasnya. Ditatapnya lembaran putih microsoft word yang sudah berisi kalimat-kalimat yang ia tuliskan. Nasya tidak bisa membendung air matanya.

            “Kamu itu seperti bulan Dav! Bulan yang besar dan mendominasi langit malam. Cahayanya terpencar indah. Sedangkan yang lain hanya seperti titik bintang yang sinarnya kadang timbul dan tenggelam.”

            Nasya terdiam sesaat. Pikiran gadis itu melayang entah kemana-mana. “Aku akan sukses Dav!” Nasya meraih buku melukis pelangi-nya Oki Setiana Dewi. Ditatapnya buku itu, lalu kemudian mulai membacanya.

Baca Artikel Populer Lainnya

1 komentar:

  1. Cards are dealt face-up, outcomes time is kept to a minimum and each recreation round is accomplished in a suspense-packed 27 seconds. Eight 52-card packs are shuffled together and dealt by the croupier from a dealing box, referred to as a shoe, which releases one card at a time, face down. Among other things, visitors will discover a every day dose of articles with the newest poker information, stay reporting from tournaments, exclusive videos, podcasts, reviews and bonuses and a lot extra. Note that the 룰렛 Tens and the face cards are all counted as zero factors. The other cards are price their face worth and, not to create any misunderstandings, let me make clear that the Ace is counted as one point.

    BalasHapus