Belajar Bersyukur


Beberapa hari yang lalu, aku mengeluhkan pada C perihal hidup. Perihal aku yang merasa minder karna belum bisa ini itu. Nggak punya ini itu. Nggak ada sesuatu yang bisa dibanggakan dari seorang Muthi Haura. Perasaanku waktu itu sangatlah kacau.

Aku sibuk membanding-bandingkan sana sini. Sibuk melihat apa yang nggak aku punya, sampai aku lupa semua yang aku miliki. C tertawa, lalu kemudian berujar bahwa aku kurang bersyukur. Dia bilang, aku harus lebih banyak melihat ke bawah. Jangan hanya melihat ke atas, ada banyak orang yang dibawah kita yang bahkan susah nyari kerjaan, susah lulus, dan lain sebagainya. Begitu katanya.

anime bersyukur
sorce: google

Setiap bercerita atau mengeluhkan sesuatu padanya, aku dibuat selalu tenang. Walaupun kadang sarannya nggak sesuai dengan apa yang menurutku benar, tapi ia mau mendengarkan ceritaku saja, aku sudah tenang. C mungkin benar, aku kurang bersyukur. Aku terlalu sibuk melihat sesuatu yang nggak aku punya.

Oleh-oleh Pekanbaru, HOT House Of Tempe


Oleh-oleh Pekanbaru, HOT House Of Tempe- Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar. Suara gema takbir berkumandang. Membuat hati ini merinding mendengarnya. Disatu sisi, ada rasa sedih juga yang kian menyelimuti hati.

Tersadar bahwa diri ini memang sudah tidak muda lagi. Tersadar bahwa waktu itu cepat banget berlalu, sedangkan aku masih stuck ditempat. Sedangkan aku masih tertatih menjemput impianku. Ah, suara takbir lebaran idul adha gini mengingatkan aku pada almarhum kedua orang tuaku juga nenek.

Teringat semuanya dengan sangat jelas. Sedih. Banget malah, tapi hidup akan terus berlanjut. Life must be go on. Aku harus tetap bangkit untuk menjemput impian-impianku, begitu juga adik-adikku. Semoga tahun depan, jika tidak ada halangan, aku sudah memiliki seorang imam untuk tempat aku bersandar.

[Review Buku]: Pengakuan Eks Parasit Lajang


[Review Buku]: Pengakuan Eks Parasit Lajang- Hai, Assalamua’laikum. Bagaimana kabarnya di bulan Agustus ini? Nggak kerasa ya udah Agustus 2019, perasaan baru kemaren bikin target di awal tahun. Perasaan baru kemaren capek-capek wisuda. Perasaan baru kemaren :’)

Ah, nggak kerasa. Memang waktu itu akan terus bergulir. Tak peduli kamu berteriak tunggu. Tak peduli kamu memintanya berhenti. Waktu akan terus berjalan. Jadi ajang intropeksi banget nih, apa yang sudah aku lakuin di 2019 ini? Sudah berapa banyak target yang aku gapai?

Sudah berapa jauh aku berjalan mendekati-Nya? Sudah berapa banyak amal yang aku persiapkan untuk menuju-Nya? Sudah berapa banyak buku yang aku baca? Melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu membuatku sadar bahwa aku belum ada apa-apanya.

Memandang Sesuatu dari Dua Sisi


Aku nggak tau ini postingan sejenis apa. Mungkin sedikit curhatan mengingat sudah lama aku tidak berbagi kisah disini. Namaku Muthi. Usiaku genap 24 tahun di 1 Juni lalu. Tua memang. Ah, tapi tidak juga. Menjadi perempuan di usia 24 tahun itu ternyata ‘lumayan’ berat. Ditambah lagi beban sebagai ‘kepala keluarga’.

Ternyata nggak mudah. Aku nggak bilang susah, hanya saja memang tidak mudah. Banyak hal yang sudah kulalui dalam hidup ini. Banyak juga pengalaman yang sudah aku rasakan. Parahnya, ada banyak orang yang kutemui, seenaknya memberi ‘nilai’. Seenaknya memberi ‘cap’ bahkan label.

“Lihatlah, si Muthi itu gini gini gini. Si Muthi itu bla bla bla. Si Muthi itu ABCDEFGH bla bla,” Si Muthi itu gini. Si Muthi itu gitu. Memberi label pada aku, padahal jelas-jelas mereka nggak tau sama sekali tentang aku. Kamu hanya tau namaku, tapi tidak dengan cerita hidupku.

Mengenal Double Cleansing


Mengenal Double Cleansing- Namaku Muthi Haura. Tahun ini, usiaku 24. Tua memang, tapi itulah kenyataannya. Jangan kalian beranggapan bahwa semua perempuan di usia 24 itu sudah dewasa, baik dalam sikap, mental, dan prilaku. Nyatanya aku belum seperti itu.

Aku masih terperangkap pada sifat kekanak-kanakan. Aku masih jauh dari kriteria perempuan ‘dewasa’. Pemikiranku kadang masih childish. Dan aku juga baru betul-betul mengenal skincare beberapa tahun belakangan ini. Juga baru mengenal perihal make up.

Kalau bisa dibilang sekarang ini, aku jatuh cinta pada skincare dan make up. Tentu saja lebih ke skincare. Aku suka ngelihat review-review skincare. Aku suka nyobain skincare baru dan ngereviewnya sesuai apa reaksi dikulitku. Makanya aku jarang beli skincare yang full size, karna kalau full size, isinya banyak.

Nongkrong di Ichiban Sushi SKA



Nongkrong di Ichiban Sushi SKA- Karna setiap orang yang hadir dihidupmu pasti ada alasan. Pasti akan ada yang bisa dipelajari dari sosok itu. Pasti ada banyak hal baru dari dirinya yang membuat diri semakin dewasa. Namanya Laila. Salah satu sahabat aku sejak aku duduk dibangku putih abu-abu.

sahabat
Aku dan Laila

Kalau boleh flasback, dia salah satu orang yang menemaniku hingga hari ini. Hingga aku menjadi seorang Muthi Haura seperti saat ini. Dia yang tau aku luar dalam. Dia yang tau baik buruknya aku, tapi tetap memilih untuk bersamaku. Dia yang tau jahat-jahatnya aku, tapi tetap stay disisi.

Langsre Aqua Hydrating Power Cream


Langsre Aqua Hydrating Power Cream- Menjadi perempuan itu susah-susah gampang. Senyum dikira genit. Nunduk dikira sombong. Ngerawat diri dan pakai make up dikira kecentilan. Nggak ngerawat diri dan nggak make up-an, di judge.

Perempuan punya kulit putih banget, dikatain kaya mayat. Perempuan berkulit hitam, di bully-bully dekil. Jadi sebenarnya, perempuan itu harus kudu gimana? Harus kudu piye? Harus seperti apa? Haruskah ngikutin standart yang dibangun media bahwa perempuan itu harus putih, tinggi, langsing, bibir tipis, dan standart-standart lainnya?

Kalau ngiikutin standart yang dibangun media, beruntung banget ya yang memang ditakdirkan cantik sejak lahir. Tapi aku tidak ingin mengikuti standart media, karna menurutku, semua perempuan itu cantik dengan caranya masing-masing. Asalkan ia bisa ngerawat apa yang udah Allah kasih buat dirinya.

Baca juga: CANTIK ITU..?

Dan aku lagi berusaha ngelakuin itu. Aku lagi berusaha untuk konsisten ngerawat diri. Mungkin ada yang berpikiran ‘apaan sih si Muthi itu, nggak cantik juga sok-sok pakai skincare dan ngereviewnya’. Haha! Terserah deh apa kata orang. Selagi yang aku lakuin itu positif dan nggak ngerugiin orang lain, why not kan?